Feed on
Posts
comments

SAKTI ini SAKIT : 1

Perempuan berjilbab hitam itu duduk di sebelah kananku. Sementara yang lain terpukau, ia tampak terlalu hirau dengan apa yang kukerjakan. Aku tahu dia sedang sakit. Titik ajna diantara kedua alisnya yang melengkung rendah itu pastilah berkedut cepat. Nyerinya terasa hingga bagian belakang telinga kanannya. Demikian pula perut kanan bawahnya yang memanas. Mungkin dia punya masalah endometriosis. Aku kurang tahu, tapi tampaknya begitu. Kami bertujuh duduk di pojokan sebuah kafe yang temaram di Citos. Aku adalah undangan terakhir. Rani mengundangku lewat selular sore ini, katanya ini adalah perkumpulan indigo yang dahsyat. Lebih dahsyat dari kelompok-kelompok lainnya yang biasa kami ikuti.

Bergiliran mereka kusembuhkan. Sederhana saja, aku hanya menggunakan do’a-do’a biasa. Al-Fatihaah tentunya. Induk segala ayat dan surat dari sang kitab yang tak terjumput keraguan sedikitpun di dalamnya. Kali ini giliran Puput, gadis manis yang tampaknya terobsesi mengetahui siapa dirinya dan apa misinya di dunia ini. Terlebih lagi karena dia merasa telah menyingkap rahasia kehidupan lalunya; sebagai seorang Brahmin pengayom lingkungan. Tengadah tangan kanan Puput di depan dadaku mengungkap garis hidupnya yang ruwet. Kutelangkupkan tanganku menganggang di atas telapaknya, Bismillahirrahmanirrahiim,

kurasakan aliran sejuk menetes dari ujung-ujung buku jemariku memenuhi cekung telapak Puput.
Bersihkan.
Seimbangkan.
Sembuhkan.
Berdayakan
…Pu…
“Nama lengkapmu sopo, Put?”
“Putri Ariani”
Bersihkan.
Seimbangkan.
Sembuhkan.
Berdayakan
Putri Ariani.
Kuketuk batang nadi di pergelangannya sebanyak tiga kali, juga ubun-ubunnya. Assalammualaikum…bukalah pintu diriMu yang terdapat dalam diri perempuan ini. Sembuhkanlah dirinya, penyakit apapun yang ada padanya. Refleks tanganku membuat gerakan mengulir bagai spiral yang mengerucut ke atas. Kuhembuskan nafas dan bersendawa keras. Semua orang di meja menoleh arahku, kecuali gadis berjilbab hitam di sebelah kananku. Ia cuma menunduk dan tampak menggeleng kecil lalu menoleh pada teman di sebelah kanannya dan melontarkan gurauan garing tentang baju Batman.

“Kenapa Batman menggunakan baju bergambar kelelawar. Bukannya menggunakan baju bertuliskan inisialnya seperti Superman yang memakai spandex berinisial S?”
Ella dan Liem, teman di sebelah kanannya terkikik-kiki geli. Aku tergoda untuk nimbrung pembicaraan mereka, “ Karena tidak ada ukuran B mungkin?”
Gadis itu mengerling padaku, lalu membuang mukanya dengan cepat ke arah teman-temannya, “Salah, mas. Jawabannya adalah karena kalau Batman pakai kaus berinisial B, nanti dia disangka Bobo kelinci”. Kami semua tergelak kecil. Aku bertanya namanya sekali lagi,
“Bintang”, ia menukas pendek dengan senyum yang mengapung.
Seperti nama laki-laki. Ya, memang seperti nama laki-laki, tapi tidak penting lagi bukan? Ya,ya…memang tidak penting lagi sekarang.

“Sini, kemarikan tanganmu. Biar kuseimbangkan dirimu”
Ia tersedak menahan gelak, “Memangnya menurut mas ini, saya kurang seimbang?”
“Oh, bukan begitu. Saya hanya…hanya ingin menyeimbangkan kesehatan Bintang”
“Yah, silahkan saja. Siapa tahu saya jadi lebih seimbang lagi. Siapa tahu lemak saya berkurang banyak”, senyumnya makin mengapung-ngapung di pipinya yang gembul. Ingin rasanya aku menjaringnya dan menyimpannya untukku sendiri.
“Bagaimana rasanya, dingin ya? Sejukkah? Aku mengalirkan energi kasih sayang untukmu. Hidup tak akan berarti tanpa kasih sayang, Bin”
Ia mendengus pelan, senyumnya tertarik ke sebelah kanan. Sebuah seringai lembut.
“Bagaimana rasanya? Kasih tahu aku dong! Aku perlu saran-saran nih”, desakku.
“Sop kaki ya,mas?”
“Sop kaki?”
“Saran opini masukan dan karitik”
“Karitik?”
“Kritik”, ia tersenyum jahil menggemaskan.
“Oh…iya,ya…katakan, apa rasanya ketika aku menyembuhkanmu barusan”
“Baik-baik saja. Adem.”
“Begitu saja?”
“Begitu saja.”


Bulan purnama masih benderang melubangi hitam beledu langit malam. Sakti termangu di teras rumahnya. Dibiarkannya jemarinya bergerak sendiri memetik-metik dawai gitar kesayangannya. Baru saja ia pulang mengantar Bintang kembali ke rumahnya. Perempuan itu memiliki daya pikat yang magis, sesuatu yang entah dan tak terjangkau. Rupanya biasa saja, wajahnya bulat demikian pula tubuhnya. Bagai purnama sidhi di atas sana. Benderang di tengah kegelapan.

Perempuan muda itu baru saja menceramahinya tentang adab berilmu. Sakti menganggapnya sok tahu, tapi toh diam-diam ia mulai memafhumkan segala yang dikatakan Bintang. Diam-diam pula ia merasa sedikit perih mengingat sindir halus Bintang bahwa tak seharusnya ia mengobati orang tanpa diminta. Sebaiknya tidak kau langgar kehendak bebas seseorang. Hei! Aku tidak bermaksud bermegah diri! Aku hanya ingin membantu sesama lebih banyak lagi. Bukankan mereka yang paling baik dimata Tuhan adalah mereka yang berguna bagi sesamanya? Sakti mendesah resah. Jemarinya mulai menari, memainkan komposisi Romance D’Amour sambil matanya merenungi bulat bulan dan sepijar Orion. Amor untukmu, Bintang.


Tiba-tiba saja ia terhempas ke dalam pusaran cahaya yang begitu dahsyat. Sakti terjengkang dalam kebingungan. Ia berusaha bangkit dan dengan risau memandang sekeliling. Begitu gelap dan memedihkan hati; dinding-dinding batu di sekelilingnya. Matanya menyipit, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan yang mendadak mengepungnya. Sesosok entah mendorongnya hingga lagi-lagi ia terjerembab ke belakang. Masuk ke dalam sebuah lift yang begitu sempit. Sakti menerjang keluar namun segera terbentur jeruji yang amat berkarat. Kau bisa melihat gelembung-gelembung dan lubang-lubang korosi yang akut pada besi-besinya. Segera ia menemukan lift itu sama sekali tak berpintu. Sakti berteriak kencang memohon pertolongan, namun suaranya menguap begitu saja bersama bau karat dan anyir kematian. Sekuat tenaga ia merangsek kerangkeng yang mengungkungnya sebelum sesaat kemudian melompat kaget hingga jatuh terduduk ke belakang. Sebuah tangan yang amat kurus, rangka berbalut kulit tipis yang coklat menggosong dengan kuku-kukunya yang panjang menjulur masuk ke dalam lift tersebut. Sakti merasakan tekanan yang begitu menyesakkan di dadanya. Ia bermaksud merogoh kantungnya untuk mencari ventolin untuk asmanya, tapi ia sama sekali tak dapat menggerakkan tubuhnya. Ia begitu takut, ngeri dan jeri. Tangan itu terulur makin jauh dalam hingga nyaris menyentuh dadanya yang kerempeng. Makhluk itu mengorok bagai celeng sebelum akhirnya melolong penuh nyeri.

Mulutnya melebar berteriak lantang tetapi bisu tanpa daya, hatinya mendaraskan segala ayat permohonan perlindungan yang ia tahu. Dari Al-Fatihah hingga ayat kursi dan zikir-zikir lainnya. Ia masih berusaha mengunyah apa yang baru saja dialaminya. Seingatnya tadi ia tengah duduk di teras rumahnya. Masih dengan seragam putih abu-abunya yang lepek oleh keringat sepulang sekolah. Ia begitu yakin tadi masih jam tiga sore, adzan Ashar belumpun berkumandang. Ia tengah membaca sebuah buku. Tasawuf dalam Islam. Sebuah buku tipis yang diperolehnya dua hari yang lalu. 3600 rupiah. Dibelinya dengan uang yang seharusnya ia gunakan untuk membeli buku biologi kelas 2. Siang tadi, ia baru saja memasuki bab ke-7, Tanazzalul, ketika tiba-tiba ia terlempar ke dunia bawah tanah ini. Ia merasakan rasa mual yang luar biasa akibat rasa takutnya. Bukunya entah terlepar kemana. Ia masih berbaju lengkap, namun rasanya seperti telanjang. Angin serasa mengulitinya. Ia menggigil kepanasan. Dingin sekaligus sumuk luar biasa. Ia merasakan panas menguar dari seberang jerujinya.

Allahu Akbar!! Ingin rasanya ia memekik, namun suaranya benar-benar menghilang.
“Saktiiiiiii….” Makhluk mengerikan di depannya membisikkan namanya. Matanya putih yang tak berbiji itu bagai hendak melompat keluar dari sarangnya. Ia tak lagi berhidung. Ia begitu kisut bagaikan jeruk yang busuk mengering. Sakti merekat ke dinding, tak bergerak. Diluar nyananya, makhluk itu menjawab ketika hatinya bertanya apakah gerangan yang tengah dihadapinya.
“Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Kita adalah satu”
Mendengarnya, Sakti merasakan amarahnya berkobar liar, begitu marahnya ia hingga tersedu-sedu tanpa malu. Hatinya memberontak. Ia bukanlah aku dan tak akan pernah menjadi aku!! Semua ini hanyalah dusta!! Tiba-tiba saja ia memberontak dan merangsek maju sekali lagi. Ia harus keluar dari penjara ini dan melarikan diri.
“Aku Saktiiiiiiiiiiiiiii…”
Demikian lalu mulutnya membentuk bulatan O sempurna dan matanya membeliak kaget. Jari tulang itu menembus dadanya. Menghentikan jantungnya. Membubuhkan tanda titik dalam riwayat hidupnya. Mati.

Tetangga-tetangga yang sore itu merubung tubuhnya yang mulai lemas dan membiru saling bertukar bisik bahwa Sakti, sulung dari pandawa lima bu Puspo ternyata mengidap epilepsi. Sebagian yang lain lagi menuduhnya sebagai pecandu pil BK atau koplo. Ayahnya telah dipanggil untuk pulang lebih cepat dari kantornya. Ibunya, dibantu para tetangga telah mencoba menyadarkannya dengan olesan duyungson pada titik-titik biru calon kumisnya yang tumbuh malu-malu. Mereka mengompres dan membasuhnya dengan air dingin, mereka menepuk-nepuk pipinya dengan halus dan kasar. Tapi ia tak juga terbangun. Ibunya membisikkan asma-asma Allah di telinga kanannya, ustad guru ngajinya yang baru saja tiba selepas memimpin shalat Ashar menuntunnya mengucap kalimat syahadat. Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa nabi Muhammad SAW itu utusan Allah.
—-
“ Siapa Tuhanmu?”
“ Allah Subhanahu Wa Taala”
“Siapa nabimu?”
“Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam”
“Apa kitabmu?”
“Al-Qur’anul kariim”
Sakti selalu saja tertidur manakala ustad Ali bertutur tentang alam kubur, nikmat dunia dan akhirat. Ia tidak mendapatinya menarik untuk disimak. Tapi tidak kali ini, jiwanya terbangun penuh, meski raganya tengah bersiap membuka pagar kematian.


“Lalu kamu pergi kemana lagi, nak?”
“Aku diajak ke surga, ibu. Kulihat senyum Adam yang menurunkan kita semua. Kulihat tangan Nuh menelangkupi mulutnya ketika memandang kosong pada lautan lepas yang mengaramkan seluruh kehidupan. Kulihat Ibrahim, ibu…sebilah parang besar tergeletak di sisinya. Kupikir, itu adalah parang yang seharusnya menetak leher Ismail. Oh, Ismail yang begitu penuh bakti…Ibu, kau juga boleh memotong leherku, ibu…jika itu satu-satunya cara agar kita berdua memperoleh bahagia dunia akhirat”
Air mata ibu mengalir deras bagai sungai madu yang dilihatnya berkelok-kelok dibawah taman firdaus. “Oh, Sakti…”
“Aku ingin kembali bu…aku ingin kembali ke surga.”
“Surgamu sekarang disini, nak…bersama ibu dan bapak. Bersama adik-adikmu”

Sakti bergelung makin mendusel ke sisi paha ibunya yang kini duduk di tepian ranjang kayunya. Keringat menguyupkannya, nafasnya tersengal bagai binatang liar yang baru saja tertaklukkan. Ibu mengusap rambut basah yang menempel di keningnya sambil mengusap butiran-butiran kristal yang menjebol matanya. Bulu matanya yang lentik berlengketan oleh air mata. Bapak hanya mematung bersandar pada pintu kamarnya, menatapnya dengan pandangan yang tak akan pernah bisa terdefinisi oleh kamus manapun.

“Ternyata langit itu tak terbentang di atas kita, bu. Tujuh lapis langit ada di bawah kakimu, ibu. Aku telah melihatnya sendiri. Surga ada di bawah telapak kakimu dan neraka…oh, tempat menyakitkan itu ada di selangkangan dan pikiranku sendiri, bu. Ibu, aku takut…aku takut masuk neraka bu…aku hanya ingin masuk surga. Aku ingin menjumpai lagi Isa Alaihissalaam. Ibu mesti menjumpainya. Dia begitu tampan, bersih dan welas asih meskipun ia begitu terluka. Ia tunjukkan lubang-lubang yang menganga di telapak tangan dan kakinya. Lubang mungil seukuran mata pasak. Ia menunjukkan lubang itu tepat di depan mataku hingga melaluinya aku bisa melihat wajahnya. Ia bilang Tuhan tidak meninggalkannya, bu. Ibu, aku ingin menemuinya lagi…”

Ibu semakin terisak. Bahunya berguncang hebat. Bapak menghampiri dan menggiring kepala ibu bersandar di perutnya yang empuk. Wis, wis…ucapnya lembut sambil memapah ibu keluar kamar. Hatinya hancur, nalarnya pun begitu.

“Ibu,ibu…kenapa kau tinggalkan aku. Ibu…aku hanya ingin surga.”

—-

“Sayang, kamu ingin merasakan surga tidak?”
“Hmmmhhhh…”
Malam telah sepenuhnya meraja. Mentari telah rebah di peraduan sejak dua jam yang lalu, bulanpun hanya tersenyum sabit. Ombak yang rindu pada pantai menyanyikan simfoni cinta yang membara pada titik-titik pasir dan bendungan batu. Angin laut meruapkan bau garam pada udara yang dihirupnya dengan tersengal-sengal. Jemarinya yang kokoh membenam pada ombak rambutnya yang wangi ginseng. Kepala gadis itu bergerak-gerak lembut di pangkal pahanya yang waspada. Ia mendesah gelisah, menggeliat marah namun sepenuhnya berserah pada hangat lidah yang menyapu dan menyesap akar dirinya. Hangat yang perlahan membakar dunianya sepenuhnya sampai akhirnya mengguncang episentrum dirinya. Ia menggempa. Bergemuruh dahsyat. Erupsi menghantar lahar putih panas meleleh turun. Membakar segala yang dilewatinya. Didengarnya dirinya sendiri menggeram keras sebelum badai itu mereda. Gadis berambut serupa deburan ombak itu mengangkat kepalanya dari selangkangannya yang kini tak lagi menuding gusar. Punggung tangannya mengusap bibirnya yang merah nyalanya memudar oleh birahi yang baru saja matang terbakar,
“Selamat datang di surga, mas Sakti…”

“Aku jijik sama kamu! Aku muak!! Cukup sudah! Aku ingin bercerai!!”
Afni membanting pintu kamarn mereka dan berlari keluar dalam ledak derai tangis kemarahan. Suaminya, Sakti bergegas keluar dari kamar mereka dan mengejarnya. Ditarik dan ditelikungnya lengan kerempeng Afni. Dengan sekali sentak, ia berhasil membalikkan tubuh Afni menghadap dirinya. Dicengkeramnya kuat-kuat dan diguncangkannya lengan perempuan yang telah tujuh tahun berbagi segalanya dengannya itu, “Afni!! Jangan kurang ajar kamu! Jaga mulutmu!”. Sebuah usaha yang sia-sia, sebab Afni malah menjadi semakin histeris, “Sampah kamu! Najis kamu!” Teriakannya yang tak henti-henti itu sungguh-sungguh membangunkan malam hingga akhirnya Sakti terpaksa membungkamnya telak dengan sebuah tamparan keras di pipinya.

Afni tersentak kaget memegangi pipinya yang mendadak panas. Sakti sendiri tak kalah kagetnya, belum pernah sebelumnya ia menampar perempuan manapun. “Afni, sayang…maafkan aku.”, dengan canggung ia berusaha merengkuh istrinya agar masuk ke dalam pelukannya. “I love you…I love us”, tetapi perempuan itu keburu terluka parah hatinya. Matanya yang telah sepenuhnya membanjir itu menatap Sakti penuh murka. Dengan keras ia menarik dahak ke ujung tenggoroknya dan secepat kilat, sepenuh benci dilontarnya cairan kental itu ke arah wajah suaminya, lantas berbisik “Naaa-jis!”. Lalu ia berlari ke luar, ke arah sebuah Honda City metalik dan bergegas masuk kedalamnya.

Sakti berlari menyusulnya penuh amarah yang berkobar tak kalah dahsyatnya. “Ffffuck! Afni!! Buka pintunya!, “ ia mulai menggebuki sekujur tubuh mobil itu. Afni hanya membuka sedikit kacanya. Perempuan yang biasanya lembut itu kini begitu beringas bagai hewan yang terluka, “Apa kamu bilang? Fuck? Kamu bilang fuck?!! Oh, bagus sekali, memang itulah kerjamu di belakangku bukan?! Oh come on, kamu memang najis, pemimpi, gila dan penjahat kelamin! Aku bosan jadi bahan gunjingan orang bahwa suamiku gila! Ibu pasti menyesal telah melahirkanmu. Tapi aku lebih menyesal lagi mempercayaimu dan menikahimu!”

-bersambung..-

NEGERI SERIBU POSTER

Cerpen : Andi Purwanto Feat. Rizki Raindriati

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya pagi ini bus yang membawaku beserta serombongan wisatawan lainnya tiba di Negeri Seribu Poster. Baru saja memasuki gerbang selamat datang negeri ini aku sudah tahu mengapa negeri ini disebut dengan Negeri Seribu Poster. Di kanan kiri yang kulihat hanya poster-poster yang menempel di pohon-pohon. Jumlahnya banyak sekali sampai-sampai membuat sebuah pohon yang lumayan besar hanya terlihat helai-helai daunnya karena seluruh batang dan rintangnya ditempeli poster-poster.

Tak berapa lama bus mulai memasuki bagian kota dari Negeri Seribu Poster. Di kota lebih gila lagi. Poster ada di mana-mana. Tidak hanya di pohon-pohon tapi juga di bus kota, tembok rumah penduduk, gedung perkantoran, mal-mal, rumah makan, pasar, tiang listrik, tiang lampu lalu lintas, bahkan tempat sampah. Ternyata tidak hanya poster saja yang banyak ditemui di negeri ini tapi juga bendera warna-warni yang dikibarkan di manapun bisa dikibarkan.

Bus kami berhenti di alun-alun negeri ini. Semua penumpang turun dan langsung berlarian untuk berfoto di depan poster-poster yang banyak dipasang mengelilingi alun-alun itu. Kulihat pemandu wisata kami kebingungan karena rombongan telah tercerai berai.

“Bapak-Bapak dan Ibu-ibu, mohon perhatiannya untuk berkumpul sebentar !!!” Pemandu wisata kami mulai berbicara dengan pengeras suara yang dibawanya. Beberapa anggota rombongan mulai berkumpul di depan pemandu wisata tapi lebih banyak lagi yang tetap berfoto di depan poster-poster. Pemandu wisata mulai bicara lagi.

“Selamat pagi, Bapak-Bapak dan ibu-ibu. Selamat datang di Negeri Seribu Poster. Harus saya bilang, Bapak maupun ibu yang hadir di sini sangat beruntung karena berada di sini saat ini. Kalau anda tidak hadir di sini hari ini maka anda harus menunggu lima tahun lagi untuk bisa menikmati segala keajaiban yang ada di Negeri Seribu Poster ini. Ya, Negeri Seribu Poster ini hanya muncul setiap lima tahun sekali. Penduduk di sini tidak pernah tahu dari mana poster-poster itu datang. Tapi di antara penduduk di sini ada sebuah rumor yang beredar bahwa yang memasang poster-poster di sini adalah……………”

Ah, pemandu wisata itu membosankan dan bertele-tele. Aku meninggalkan rombongan lalu berjalan mendekati deretan poster yang dipasang di jalan di samping alun-alun. Baru kusadari betapa banyaknya poster-poster yang dipasang di sepanjang jalan itu, ada yang kecil tapi ada juga yang besar sampai-sampai menutupi sebuah rumah makan.

Jangan bayangkan poster-poster di sini sangat artistik seperti poster film-film Hollywood. Poster-poster yang ada di Negeri Seribu Poster ini sangat tidak artistik, baik desain maupun cara memasangnya. Tidak hanya dipasang di sembarang tempat tapi bahkan ada poster yang saling menumpuk satu sama lain. Sungguh tidak teratur.

Kebanyakan poster-poster itu bergambar manusia (siapa mereka??) dengan berbagai pose tapi kebanyakan dari mereka tersenyum. Lalu ada simbol-simbol yang berwarna warni. Lalu ada nomor. Lalu ada tagline yang semuanya sangat norak. Tapi ada satu benang merah yang menghubungkan semua poster di sini yaitu semua poster mencantumkan satu kalimat yang sama : CONTRENG SAYA !!!!!

Tak ada satupun poster yang kusukai tapi aku tetap memotretnya sebagai oleh-oleh untuk teman-temanku yang merasa iri padaku karena aku bisa hadir di sini sementara mereka harus menunggu lima tahun lagi. Andai saja teman-temanku itu tahu bahwa tak ada alasan bagi mereka untuk iri padaku karena aku sendiri sudah muak berada di Negeri Seribu Poster ini.

Oh ya, siapa mereka? Mereka yang wajahnya dipampang di poster-poster itu. Aku bisa menanyakannya kepada pemandu wisata kami tapi jawabanya pasti bertele-tele. Aku akan menanyakannya pada penduduk setempat saja. Aku menuju sebuah rumah makan yang banyak dikunjungi penduduk setempat. Aku memesan kopi lalu duduk di dekat seorang Bapak yang sedang membaca koran.

“Selamat pagi, Pak” Aku menyapanya.

“Selamat pagi” Bapak itu menjawab sambil menurunkan korannya.

“Bolehkah saya bertanya, Pak?”

“Adik wartawan ?”

“Bukan Pak. Saya wisatawan”

“Oh. Adik mau bertanya apa?”

“Siapa orang-orang yang wajahnya ada di poster-poster itu?”

Kopiku datang. Pelayan menaruhnya di meja dan baru ku sadari bahkan meja di rumah makan ini tidak luput dari tempelan poster-poster itu.

“Sejujurnya, Bapak tidak tahu, Dik” Bapak itu menjawab lalu menyeruput kopinya. Rautnya menunjukkan keprihatinan yang amat sangat.

“Bagaimana Bapak tidak tahu ? Bapak kan penduduk sini.”

“Orang-orang yang ada di poster-poster itu hanya datang ke sini tiap lima tahun sekali saja. Selain itu mereka tak pernah muncul lagi barang sedetik pun jadi bapak tidak benar-benar tahu siapa mereka”

“Lalu apa tujuan mereka memasang poster-poster itu?”

“Mereka sedang meminta belas kasihan kepada penduduk di sini”

“Maksud Bapak?”

“Mereka hanya merusak pemandangan negeri ini, Dik. Lihat, bahkan mereka memakan banyak tempat di koran akhir-akhir ini”. Bapak itu tidak menjawab pertanyaanku tapi malah memberikan korannya padaku dan memang poster-poster itu juga sudah menjajah koran.

“Maaf Dik tapi Bapak harus segera bekerja”

“Oh iya Pak. Terima kasih”

Ku habiskan kopi itu, membayar lalu keluar dari rumah makan. Awalnya aku ingin kembali ke bus tapi akhirnya kuputuskan untuk pulang sendiri saja karena rombongan bus itu merencanakan untuk melakukan tour 2 hari di negeri ini sementara aku sudah sangat bosan dan muak melihat poster-poster itu walaupun baru beberapa jam. Biarlah kuberjalan kaki atau harus merogoh kocek lebih dalam untuk tiket pulang, asalkan aku bisa secepatnya keluar dari tempat mengerikan ini. Salut buat mereka yang tinggal di sini yang betah meski setiap hari harus memandang poster-poster murahan itu. Tak dapat kubayangkan derita hidup dimana seluruh keindahan alam telah seluruhnya terbungkus oleh wajah-wajah manusia yang semuanya tengah membanggakan diri.

Aku berjalan menuju perbatasan negeri ini untuk segera pulang sambil sesekali mencopoti poster-poster yang menempel di pepohonan. Seandainya pohon itu bisa mengeluh pasti akan mengerang kesakitan karena tubuhnya dipenuhi tancapan poster-poster. Bahkan untuk ditempel di bunga-bungaan yang kecilpun mereka membuat poster dengan ukuran khusus.

Mereka menjajah segala tempat dan bentuk yang paling mungkin. Mobil yang barusan lewat berlukiskan wajah seorang wanita tersenyum simpul sambil mengacungkan jempol. Tagline dibawahnya bertuliskan, “muda, cerdas dan terpercaya. Contreng Ir.Syalala Nurani. S.H, MSc, putri pak kades dusun Mbelgedes. Di tepian pantai yang kulalui, deretan tambatan perahu juga menunjukkan pemandangan yang tak kalah memuakkan. Perahu yang paling dekat denganku menyunggingkan senyum canggung seorang lelaki. Wajahnya mirip dengan salah satu tersangka penculik tetanggaku yang dulu pernah tertangkap. Tak dapat kubaca dengan jelas tagline di tubuh kapal itu, kecuali tulisan Gindara yang tercetak dengan font ukuran raksasa di badan layarnya. Mungkin laki-laki itu adalah juragan nelayan penangkap ikan gindara pikirku.

Puncak perjalanan menjijikkan ini akhirnya terjadi tak jauh dari pantai tadi, tiba-tiba saja datang segerombolan orang tanpa ekspresi dalam beberapa truk sambil membawa begitu banyak gulungan kertas, kain maupun terpal plastik. Tanpa banyak cakap mereka langsung bekerja membuka seluruh gulungan-gulungan ukuran jumbo itu dan menempelkannya di segenap penjuru yang paling mungkin. Sedikit penasaran, aku bergegas mendatangi salah satu poster terbesar yang paling awal ditempel. Poster itu menutupi tubuh sebuah pencakar langit tertinggi di negeri ini. Didalamnya, terpampang seorang lelaki tersenyum amat simpatik dengan jas biru langit tercangklong di bahunya. Ia membawa sekuntum mawar merah. Disebelahnya tertulis dengan megahnya, “Hentikan perusakan keindahan kota! Copot semua poster-poster dari semua sudut kota!”. Seketika aku muntah di tempat. Ternyata tepat diatas senyum lebar seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor dan mentereng. Gila, bahkan jalan rayapun ditempeli poster!

Aku sebenarnya sudah cukup lelah ketika melewati gerbang selamat datang. Aku asal-asalan memotret gerbang itu, sekedar memenuhi pesan beberapa kerabat. Oh, betapa kejamnya orang-orang yang memasang poster-poster itu. Bahkan di gerbang selamat datang ini pun tak luput dari serbuan poster-poster itu! Aku benar-benar muak dan marah! Tiba-tiba kegilaanku kumat. Tiba-tiba timbul inisiatifku untuk mencopoti poster yang ada di gerbang itu. Aku mulai bekerja tak kenal lelah dengan segala cara, mulai dari memanjat pohon karena tidak ada tangga, lalu bergelantungan pada besi-besi penyangganya. Serasa spiderman. Awalnya aku lumayan kesulitan membersihkannya karena ternyata poster yang menempel di gerbang itu sangat banyak, namun setelah bekerja selama beberapa jam akhirnya gerbang itu bersih juga dari poster-poster. Sebuah gerbang indah yang terbuat dari marmer, gading berhiaskan pelat-pelat huruf dari lempengan emas murni. Aku meloncat turun untuk melihat lebih jelas tubuh gerbang itu dan tulisan besar di palangnya. Kini terbaca jelas disana : SELAMAT DATANG DI INDONESIA.

-buat ANDI, terima kasih sudah diijinkan ikutan nambah-nambahin merecoki cerpenmu ;-). Lain kali lagi yuk-

(sebuah cerpen yang pendek sekali dari Andi Purwanto dan Rizki Raindriati)

Kususuri jalan yang sama lagi pagi ini. Adzan subuh sudah mulai berkumandang. Seperti biasa, kutemui juga Pak Haji di jalan pulang.

“Assalamualaikum, Pak Haji.”

Pak Haji diam saja, seperti biasa. Tapi tak apa. Pak Haji mungkin terburu-buru mencari surga. Sungguh ia orang yang amat saleh.

Kumandang adzan berhenti tepat saat aku tiba di depan pintu kamar kosku. Kuputar kunci, lalu masuk. Seperti biasa. Kumasak air untukku mandi.Itu tak biasa. Tapi pagi ini dingin sekali. Aku mandi lama sekali. Hari ini badanku kotor sekali. Seperti biasa juga. Lalu aku memasak. Memasak apa saja. Kuceburkan sekeping mie instant dan patahan-patahan sawi. Ternyata jadi agak terlalu banyak. Aku memakannya sedikit. Sisanya entah untuk siapa. kadang aku juga lupa sebenarnya untuk apa aku masak? Hmm, mungkin supaya aku tak lupa cara memasak saja. Seperti biasa.

Kurapikan tempat tidurku. Aku letih. Aku ingin tidur. Hampir saja aku terlelap saat sebuah batu melayang mengenai pintu kamar kostku. Kuintip dari jendela. Ah, mereka lagi. Pasukan berandal berbaju putih bercelana biru.

“Hei perek, layani aku dong hahaha,” teriak salah satu di antaranya. Teman-temannya ikut tertawa. Riuh. Kubiarkan saja mereka. seperti biasa. Siang nanti biasanya giliran ibu-ibu mereka yang melempariku dengan cibiran dan delikan mata. Baik ketika aku di warung, di pasar, di apotik, di tukang jahit atau di mesjid. Seperti biasa. Bapak-bapak dan suami-suami mereka juga yang memberiku uang. Bapak-bapak mereka juga yang minta kulayani tiap malam.

Aku mencoba memejamkan mata lagi. Belakangan ini agak sulit. Tidak seperti biasa. Anak tadi yang meneriakinya, wajahnya terbayang lagi. Dia tampan. Seperti ayahnya. Ibunya juga cantik sekali. Ibu Kades Syukur. Wangi, bersih,shalehah dan sukses. Beberapa hari yang lalu aku ketemu ibunya di warung. Ia mencibir, memandangku dengan ekor matanya. Seperti biasa. Kali ini ditambah bisikan isi komentar pedas. Agak tidak biasa.

—-

“Mmmhh, perempuan murahan datang…”

Biasanya aku diam saja. Tapi hari itu memang agak tidak biasa. Tiba-tiba saja aku ingin menanggapi. Dan mulutku bicara tanpa sempat kutahan lagi, “Tidak lagi. Suami Bu Kades selalu membayar saya diatas rata-rata.” Dan hal berikutnya yang kutahu, telapak tangannya mendarat telak di pipi kiriku. “Dasar sundal! Perek murahan!!”.

Ia begitu murka. Matanya mendadak nyalang. Badannya bergetar. Tangannya siap mengayun lagi, tapi pemilik warung mencegahnya. Pengunjung lain juga. Ia merangsek maju, tetapi mereka mencegahnya. Kata-kata kotor berhamburan dari mulutnya. Tidak apa-apa. Aku sudah biasa mendengarnya. Ibu-ibu lain disitu jadi ikut marah padaku. Seseorang memakiku. Sudah biasa. Seseorang yang lain menyalahkanku. Itu juga biasa. Ibu pemilik warung lantas mengusirku. Itu juga biasa. Aku mengambil belanjaanku yang sedikit itu. Meletakkan uangnya diatas sebuah toples permen lalu pulang. Lantas bekerja seperti biasa.

Kades Syukur adalah kepala desa sekaligus tuan tanah paling berkuasa di desa ini. Ia juga insinyur, makan sekolahan. Ia juga haji, ngerti agama lebih banyak dari aku. Seharusnya ia saleh. Orang saleh jarang yang bikin salah. Aku kaget ketika dia datang pertama kali. Tapi aku biasa saja. Banyak laki-laki tak terduga yang datang padaku. Aku ya terima saja. Pada dasarnya mereka semua sama dihadapanku. Jadi, biasa saja.

Pipiku jadi agak memar hari itu. Kades Syukur tercengang malam harinya. Ia memegang pipiku panik. “Siapa yang melakukannya??!”. Aku tersenyum dan menggeleng saja. Seperti biasa. Ia mengomentari, pipi sehalus pipiku tak seharusnya ditampar. Seharusnya dicium saja. Ia lalu mulai menggombal lagi. Lantas mencumbuku. Seperti biasa.

Aku sudah biasa dengan tamparan. Seingatku, bapak sering menampar emak. Bapak juga sering menamparku. Bapak sering menampar adik-adikku. Bapak juga sering ditampar juragannya. Kalau setoran becaknya tidak penuh. Bapak juga sering ditampar preman Pasar Kembang. Kalau upetinya kurang. Aku sudah amat biasa dengan tamparan. Pukulan dan tendangan juga. Makian juga.

Tapi bapak sudah lama tidak menamparku. Terakhir ia menamparku sepuluh tahun lalu. Waktu itu aku masih tiga belas tahun. Aku ingat gara-garanya. Aku marah ketika bapak bilang ia akan menjualku. Juragan sapi itu membeliku seharga empat juta rupiah. Cukup untuk menutup hutang keluarga. Aku protes singkat, “Aku tidak mau,pak! Ustadah bilang itu dosa!” lalu bapak menamparku keras. Kupingku sampai berdengung lama. “Aku tidak mau masuk neraka, pak!” kali ini bapak langsung menghajarku. Hidungku sedikit berdarah. Bibirku pecah. Perutku sakit sampai mau muntah. Ibu menjerit-jerit melindungiku. Dan seperti biasa, sia-sia.

Ibu mendandaniku sambil menangis. Ketika ia mengoleskan gincu ke bibirku, aku meringis. Merah gincu menyamarkan merah darah bibir pecah. Ibu berpesan padaku agar aku jaga diri. Seperti biasanya kebanyakan ibu-ibu. Ia berpesan lagi agar aku manut saja. Supaya hidupku aman. Aku tersenyum dan mengangguk saja. Menenangkan hati ibu. Juga hatiku sendiri. Seperti biasa.

Bapak menggandeng tanganku erat. Tidak biasanya. Mungkin ia takut aku akan kabur. Ia berkata betapa aku adalah anaknya yang paling baik dan cantik. Aku adalah pahlawan keluarga. Aku diam saja. Seperti yang biasa kulakukan saat bapak bicara. Tuan juragan sapi itu baik. Awalnya saja. Seperti biasa. Laki-laki hidung belang hanya baik awalnya saja. Laki-laki baik mungkin akan baik selamanya. Tapi aku belum pernah bertemu laki-laki baik seumur hidupku. Jadi kubilang saja; mungkin. Seperti biasanya perempuan, aku juga berkhayal bertemu cinta sejati. Tapi aku ini orang yang aneh. Aku tidak biasa. Aku ini bekasnya banyak lelaki. Lagian, wajah dan otakku juga biasa saja. Tidak ada nilai jual lebihnya untuk dipungut jadi bini. Sudahlah, tidak mengapa. Hidupku begini saja. Toh aku sudah biasa.

Aku mengusap air mata di pipiku. Tiba-tiba aku kangen ibu. Dimana ya, ia tinggal sekarang? Terakhir aku mudik delapan tahun lalu, rumah kami sudah tergusur. Ibu juga tidak mungkin tahu dimana aku tinggal. Dari rumah sang juragan sapi, aku telah pindah puluhan kali. Seperti biasa. Ah, sudah aku tidur saja! Ingat-ingat yang kemarin hanya bikin aku sedih. Malah jadi tidak bisa tidur. Padahal kalau aku kurang istirahat, penampilan dan servisku jadi kurang oke. Kalau servis tidak oke, pelangganku kabur. Lalu aku besok makan apa? tinggal dimana? Sudahlah, lupakan saja kepahitan masa lalu. Seperti biasa.

Selamat pagi - Selamat tidur, pembaca yang terhormat. Aku tahu aku takkan bermimpi pagi ini karena semua mimpi sudah kalian habiskan bersama tadi malam. Aku hanya ingin tidur. Itu saja.

-Sukoharjo&Jakarta, (30/4)+(1/5).09, AP&RR-
(Terima kasih buat Andi yang lagi-lagi mengijinkan karyanya direcoki. i’ve got my 20. you’ve got your 20…come on lets make it 50-50,Ndi! pasti jadinya seruuuuu)

Cirendeu, 1 April 2009

Anakku terkasih,

Dengan sepenuh cinta ibu tuliskan surat ini untukmu anakku. Kubiarkan cinta menggerakkan jari jemariku lincah berlompatan di atas tombol-tombol keyboard, untukmu yang akan terlahir tiga warsa dari sekarang. Hari ini sudah malam anakku,

Andai ibu tidak salah menuliskan wasiat, surat ini baru akan kamu baca di hari ulang tahunmu yang ke dua puluh tujuh. Mungkin ibu akan duduk di sampingmu saat kau membaca surat ini, baik mewujud raga atau hanya sekedar jiwa yang melayang memandangmu dari balik gerumbul mega. Ibu tidak pernah tahu berapa lama kita berdua akan hidup dan apakah akan pernah sampai waktu kita untuk membaca surat ini bersama-sama.

Surat ini ibu tulis tiga tahun sebelum tangis pertamamu memecah surya yang baru saja mendusin di ufuk timur. Ingatkah kamu akan hari kelahiranmu itu, putraku? Aku masih dapat mengingat jelas setiap rasa sakit dan perih juga lega ketika pertama kali kamu menatap dunia. Ya, ingatkah kamu…kau terlahir dengan mata yang terbuka lebar, selebar mulutmu yang menangis lantang hendak woro-woro pada dunia, “aku telah tibaaa!”. Aku masih dapat merasakan seluruh kerenyit nyeri itu, bahkan sekarang, tiga tahun sebelum engkau kulahirkan ke dunia, wahai anakku.

1 April 2012. Pada hari guyonan awal April itulah kamu lahir. Mungkin karena itu kamu tumbuh menjadi anak yang penuh humor. Ah, betapa kami, keluargamu ini begitu mencintaimu karenanya. Jagalah rasa humor itu dalam dirimu, nak. Ia begitu penting untuk menjaga kewarasanmu dalam menghadapi hidup yang kebanyakan…ehmm, berisi orang-orang yang kurang waras. Setiap kali melihatmu tertawa dengan gigimu yang baru tumbuh dua itu, ibu selalu merasa damai. Betapa polosnya kamu nak, betapa aku rindu masa ketika aku masih sekecil kamu. Bodoh dan tak tahu apa-apa, tetapi semua-bahkan semesta- memakluminya dan telaten mengajarkan kita segala hal yang katanya sih perlu kita ketahui. Kala memandangi nyenyak tidurmu, ibu berpikir betapa fananya hidup kita ini.

Nak, jika kau masih sempat membaca surat ini kelak, itu pertanda bahwa memang dalam hidup tidak ada yang pasti dan sungguh sebuah misteri Ilahi. Kukatakan demikian padamu, sebab sesungguhnya saat inipun hampir seluruh dunia tengah bersiap menyambut akhir opera terbesar sepanjang masa : Kehidupan Kita, yang konon akan berakhir sehari sebelum hari ibu tahun 2012. Mungkin saat membaca baris barusan, kamu akan tersenyum atau bahkan terkekeh geli seperti saat gigimu cuma dua. Tapi begitulah, nak…saat ini ibu dan ayah hidup di jaman dimana manusia tengah sadar-sadarnya akan potensi optimum dirinya; menjadi Tuhan bagi semesta raya-bahkan universisnya. Kita tengah mendaki setapak lagi menuju titik puncak peradaban, nak. Dan kau tentunya sudah mafhum dengan apa yang akan terjadi ketika kau telah mencapai puncak; kau tidak punya pilihan lain selain turun. Baik perlahan maupun menukik tajam dan terjungkal berkeping tanpa ampun. Semoga Tuhan tidak mem-Kun Fayakun-kan skenario ini, anakku. Ibu dan ayah masih ingin melihatmu tumbuh dewasa dan berkembang menjadi manusia muslim Nusantara yang utuh, seperti yang selalu ibu lihat dalam mimpi-mimpi ibu belakangan ini.

Semalam adalah kali ketujuh aku memimpikan kelahiranmu. Masih adegan yang sama. Butiran keringat sebesar jagung yang merangsek jangat. Gemeretak geligi bagai decit gesek roda kereta api melindas rel dalam perjalanan ke negeri entah. Air mata mengalir deras bagai sungai yang tergesa ingin segera menjumpai muara. Kau menggedor dinding-dinding rahimku lebih keras lagi, tak sabar ingin segera menjumpai dunia sekaligus juga  merasa sedikit ngeri dengan apa yang menunggumu di luar sana. Seolah kamu bimbang anakku. Aku tidak akan menyalahkanmu. Dunia memang bukanlah tempat yang menjanjikan keamanan dan kenyamanan penuh bagai kasih-rahim ibunda tempatmu bertapa sembilan candra lamanya. Tapi disinilah tempatmu seharusnya berada. Bukan dalam tubuh atau anganku selamanya. Dan begitulah anakku, tepat ketika semburat mentari tampak di horizon,kamu tergelontor keluar. Begitu megah dan merah seperti terbitnya mentari itu sendiri.

Sakti.

Kunamai kamu Sakti.

Sakti.

Sakit.

Kamu lihat anakku, tiga kata yang jauh maknanya bagaikan matahari, Neptunus dan Pluto itu tersusun dari huruf-huruf yang sama. Aku percaya dan akupun ingin kamu percaya, setiap nama mengandung do’a harapan dan juga makna. Setiap huruf dan susunannnya memiliki nasib dan takdirnya sendiri. Seperti juga namamu, nak. Ejalah namamu aksara demi aksara. Pahamilah esensi eksistensi setiap huruf itu, sebelum kau mewujudkan takdir namamu. Kesaktian tanpa kebijaksanaan adalah sakit, anakku.
Dan camkanlah, namamu Sakti
Bukan Sakit.

Ibu lupa menanyakan bagaimanakah kabarmu hari ini, nak? Apakah kabarmu tetap sebaik dan sebahagia kemarin dan juga esok? Ataukah dunia telah meracuni hatimu dengan prasangka dan apatisme basi? Apakah yang sedang kamu lakukan sekarang, nak? Apakah kamu tengah bersepeda menyusuri tepian kali di dekat rumah kita atau mengendara bis atau mobil membelah jangkungnya kota? Aku percaya kota kita akan tumbuh lebih cepat darimu ataupun bibit melati yang tadi sore ibu tanam. Aku sangsi kamu akan sempat mengenal sepeda. Lebih lagi, aku sangsi kamu akan mengemudikannya menyusuri kali. Saat surat ini kamu baca, kali itu mungkin sudah menjadi sebuh comberan maha besar atau malah mengering mengerak pecah seperti telapak kaki ibu sekarang. Ah, jadi mengingatkan ibu untuk mengoleskan lotion pelembut kaki. Ibu ingin meninggalkan jejak yang baik untukmu, nak. Yah, yang baik…

Aku tidak tahu, apakah sudah kau sadari bahwa baik dan buruk sebenarnya adalah satu belaka. Tidak ada sesuatu yang terlalu buruk untuk terjadi, anakku. Semua memiliki suatu maksud yang mungkin hanya akan kita ketahui pada musimnya, pada masanya. Bertemu ayahmu dan lantas memiliki kamu, kamu yang sakti, juga memiliki suatu maksud. Ayahmu orang yang baik, nak. Jangan kau pedulikan apa yang dikatakan sejarah mengenai ayahmu atau bagaimana kami dulu bertemu. Kamu harus mampu melihat langsung ke kedalaman nurani seseorang dan kamupun harus meyakini apa yang dikatakan nuranimu mengenai nurani seseorang. Baik dan buruk bergantung pada pikir, didikan dan pengalaman hidupmu, nak. Baikmu belum tentu baikku dan sebaliknya. Jika kamu yang terlahir dariku saja memiliki konsep yang berbeda mengenai baik dan buruk, apalagi orang lain. Aku cuma memintamu satu hal, bergerak dan menjelmalah berdasarkan nuranimu.

Jagalah ia baik-baik anakku. Gunakan ia tanpa sungkan, setiap saat. Cuma itu satu-satunya benda, anggota tubuhmu yang bisa kamu andalkan. Terlebih lagi dimasa ketika kamu membaca surat ini, di masa dimana aku yakin kamu sudah menyadari siapa sesungguhnya kamu. Dunia akan terasa menjadi lebih kelam dan pahit, terlebih dengan tugas-tugas spiritual yang menantimu. Aku tidak akan mendustaimu mengenai kenyataan itu. Semakin dekat kamu dengan apa yang akan kamu menjadi, jalanmu akan semakin memerihkan telapak hati. Kamu akan semakin mudah lelah dan merasa sendirian. Amat sedikit sekali orang yang mengerti apa yang kamu alami dan amat banyak sekali orang yang mencibir dan membencimu. Mimpi-mimpimu yang mudah menjadi nyata akan dianggap sesat. Terawangmu mengenai kenyataan hidup yang sesungguhnya akan membuatmu dikerubuti banyak orang namun sekaligus juga membuatmu ditinggalkan banyak orang. Manusia, anakku, hanya senang mendengarkan hal-hal yang menyenangkan. Pesan ibu, fokuslah pada dirimu sendiri. Sia-sia saja kamu berharap dapat menyembuhkan dunia dan menjadikannya tempat yang lebih baik. Dunia tidak bisa disembuhkan. Ia sesempurna rupa dan keadaannya saat ini, kemarin dan nanti.

Hayatilah hidupmu sebagai pengalaman yang indah, Sakti anakku. Percayalah padaku, bahkan peperangan, tangis, luka dan kemarahan adalah juga bagian dari keindahan hidup itu sendiri. Bahagia tak terukur dari gelak tawa, keindahan bukan berarti apa yang tampak indah dimata. Sedih tak melulu duka, selalu ada hikmah yang menyertainya.

Malam masih saja kelam,nak. Langit Cirendeu tempat ibu tinggal belakangan ini begitu resah dan berduka. Belum-belum kamu lahir, Situ Gintung yang indah ini telah jebol dan terkuras habis. Padahal ibu ingin sekali menanyakan padamu, bagaimanakah keadaan Situ Gintung saat kau membaca surat ini? Masih seindah seminggu yang lalu sebelum ibu menulis surat inikah saat segalanya masih tampak begitu kokoh dan teguh? Sudahkah waduknya terbangun lagi dan terisi lagi airnya seperti yang dijanjikan pemerintah hari ini? Apa pendapatmu anakku? Masih pentingkah semua itu untuk ibu pikirkan? Televisi telah membuat begitu banyak bencana alam yang terjadi belakangan ini kadang terlihat tidaklah lebih penting dari begitu banyak hal lain yang terjadi hari ini : gelembung yang pecah dari liur politisi yang hari ini sibuk obral janji ditemani goyang dangdut penyanyi seksi, harga-harga yang sedang berstrategi untuk naik ataupun turun, berita perceraian dan pernikahan bahkan cukuran rambut seorang bintang sinetron basi. Jujur saja kadang ibu merasa bersalah, nak. Kami menonton tangis pilu mereka kehilangan harta dan sanak saudara sambil menikmati makan malam hari ini. Kami berpesta kembang api di malam tahun baru, saat bocah-bocah tak berdosa di belahan dunia lain tengah ketakutan melihat pendaran cahaya mematikan serupa kembang api di udara : lesatan rudal dan entah senjata apa lagi. Warta-warta tentang duka cita dan peperangan diselingi iklan yang mengatakan putih itu cantik, memiliki rumah di komplek anu serasa tinggal di surga dunia atau istri berbakti rajin mencuci baju dan panic. Pikirkanlah anakku…apakah hal yang terpenting dalam hidupmu?

Ibu yakin, kelak saat membaca surat ini, kamu telah menjelma seorang pemuda paripurna, yang siap menghadapi dunia dengan kepala tegak meski di sekeliling parang dan panah mengarah kepadamu. Apakah kamu merasa lelah dan jenuh hari ini? Begitu capek dengan segala berita tentang dunia dan teman-teman yang selalu mengeluh dan letih mengejar uang yang penuh darah, air mata juga peluh? Hidup memang fana, Sakti, anakku. Kita berdua hanyalah remah-remah waktu, nak. Hidup, setelah itu mati. Kamu dan aku sama tidak pentingnya dengan titik pasir di tepian pantai; namun di saat yang bersamaan kita berdua tahu ada tugas pentingn yang kita emban bersama. Tugasmu di kurun waktu yang entah ini hanya satu nak, menjadi manusia. Sebenar-benar manusia.

Ibu mencintaimu, nak. Ibu mencintaimu bahkan jauh sebelum ibu berjumpa denganmu, bagaimanapun rupa atau keadaanmu kelak. Baik sesuai atau tidak dengan apa yang terwangsit dalam mimpi-mimpi ibu belakangan ini. Jangan pernah kau ragu akan hal itu. Sebagaimana ibu juga mencintai ayahmu jauh sebelum kami bertemu. Bukan karena rupa atau hartanya, nak. Ibu tidak tahu ibu kelak akan berjodoh dengan siapa. Ibu tidak tahu siapa yang akan menjadi ayahmu, namun aku tahu hatiku akan ditambatkan pada dermaga hati seseorang yang memiliki kebaikan dan ketulusan dalam dirinya dan memiliki rasa hormat yang baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, lingkungannya dan terutama, Tuhannya. Kamu adalah buah cinta, nak…bukan sekedar buah nafsu. Ingatlah itu baik-baik. Begitu lama aku menunggu datangnya ayahmu, nak…telah kutemui ragam lagak lelaki sebelum ini dan ibu bersyukur Tuhan membuatku sabar menunggu, meniti jalan berliku karena telah kudapatkan ia yang dimaksudkan untukku. Semoga engkau kelak dapat mengikuti jejaknya, nak.

Sungguh ibu berharap dapat menemanimu membaca surat ini, tapi marilah kita biarkan hidup mengalir sebagaimana adanya. Jalani saja detik ini sebaik kita bisa nak. Tidak perlu terlalu bersedih jika salah satu dari kita dipanggil terlebih dahulu, tidak perlu khawatir jika saat ini kau sudah berada entah di negeri berantah. Engkau selalu bebas untuk terbang kemanapun engkau ingin, nak, asalkan itu tidak melanggar rambu yang telah engkau pahami. Kuikuti sabda Gibran untuk memberi ruang pada ragamu dan membebaskan jiwamu. Sebab meski anakku, engkau bukanlah anakku, Sakti. Engkau adalah anak kehidupan. Jadi, kembalilah pada hidupmu. Ibu akan mendo’a untukmu, untuk keselamatan dan kebahagiaan dunia akhiratmu. Dari sini, dari sekarang.

Dengan segenap cinta,

Ibu

-juga untuk Rosyana Mahmudah dan pamannya yang baru saja berulang tahun, Adnan Putra Ramadhan, Aldy Putra Kautsar, Naura Kamila, (Alm) Gailan Rafi, Ameeradina Azka Aziza, Ramzy Rafi Rachmadani-

PROLOG

Gulungan lontar riwayatku telah terbabar.
Sang Narada telah menceritakan semua.
Tentang aku.
Tentang Bintang.

Aku adalah Bintang. Aku adalah kedipan-kedipan cahaya yang selalu kau lihat dalam kelam malammu Aku adalah ia yang mengamati dari ketinggian, menatapmu penuh rindu dari kejauhan langit malam. Aku adalah ia yang tertakdir sebagai penuntunmu untuk kembali pulang ke tempat dari mana kau bermula. Meski berjauhan, aku tak pernah pergi. Dongakkan kepalamu pada hitam beledu kubah semesta kala kau tersesat, akan kau dapati aku tengah menunjukkan arah yang harus kau tempuh. Tanpa banyak cakap, tanpa banyak kata, hanya akan menemanimu. Aku pula yang tertakdir untuk menyingkap jati dirimu, sebagaimana kau telah tertakdir untuk membuka tabir sukma sejatiku.

Aku adalah bintang. Aku adalah ia yang tertulis mampu menyaksikan kelahiranku sendiri; yaitu masa dimana maha silau yang bermula dari ketiadaan meledak berkeping menjadi titik-titik pijar bola gas api dalam hampa udara hitam. Aku adalah ia yang tercipta dari tetes-tetes lesatan bintang berekor yang jatuh dan meresap dalam cawan kasih sayang ibunda. Dari kegelapan tempatku bergelung selama sembilan bulan telah kusaksikan riwayatku, riwayatmu, riwayat kita dan mereka. Riwayat bagaimana semua ini bermula dan bagaimana kelak ia akan berakhir.

Dalam nyenyakku di rahim ibunda, sambil menghisap jempol, telah kujelajahi ruang rasa dan riwayat, dari garis terbit matahari hingga sudut kelam dimana ia kelak tenggelam. Pada subuh yang membiarkan malam meluruh, pada terik siang yang membuat hari panas terpanggang dan pada malam yang menyamarkan semua mimpi dalam hitam. Pernah pula kutelusuri jejak-jejak degup kehidupan pada sepanjang biru debur laut dimana pulau-pulau terbaring telungkup diatasnya. Juga pada sepanjang naungan biru langit yang menudungi batu-batu yang bersemadi menjadi candi, pada sepanjang hijau-hijau pohon yang tampak berlarian di kanan kiri kita, pada gunung yang memelototi kita yang berlarian di bawah kakinya sambil merasa mengapa sepertinya aku dan kamu sudah pernah hidup dan bertemu sebelum ini. Pada suatu ketika, entah dimana, kita lupa.

Pernahkah terpikirkan olehmu, berapa kali kita hidup sebelum mati? Pernahkah tergagas dalam benakmu, engkau pernah menjadi sebongkah batu besar di pinggir derasnya sungai yang sebenarnya adalah aku. Pernahkah terlintas dalam kenanganmu ketika aku dan kamu adalah dua helai daun yang bersisian di kerimbunan pohon bodhi yang menaungi Sang Gautama? Ingatkah kamu, aku adalah bintang orion yang selalu menemanimu kala engkau menjadi rembulan. Kala engkau menjadi sabit gading, cawan ataupun bulat sempurna, aku tetap di sisimu.

Pernahkah kau sadari, kita telah bersama berkali-kali dan berkali-kali pula terpisah sebelum ini? Aku adalah Drupadi yang melenting berputar laksana gasing diujung kumparan ribuan meter kembenku saat Kurawa berusaha menyingkap tubuh yang sebenarnya hanya untukmu. Yudhistiraku tercinta, aku tak pernah menyalahkanmu meski aku gusar saat kau pertaruhkan tubuhku berjudi dadu melawan Kurawa. Sebab kutahu kau pasti kalah, sayangku. Kuingat kamu hanya tersenyum melengos ketika kukatakan firasatku. Kita tetap berangkat mengocok nasib lewat bintik-bintik dadu. Kau tak mendengar apalagi menyimakku. Dan aku tahu itu tak akan pernah berubah sampai ribuan tahun ke depan. Tapi kita tetap dan selalu saja bersama.

Aku tetap di sebelahmu, tak jemu untuk santun menyatakan firasat dan pertimbanganku untuk kebaikanmu. Aku adalah maharani bertunika biru yang duduk di kanan singgasanamu, yang menggenggam tanganmu erat dan berkata, “Jangan pergi, pedang mereka tak akan membuatmu kembali”. Dan kamu, masih dalam kemegahan dirimu, bangkit dari tahta keemasanmu sambil berbusung dada menonjolkan kilatan bebatuan lapis lazuli di atas zirah keperakan yang mencetak lekuk-lekuk ototmu. “Adrianus sang kaisar adalah pewaris dewa-dewi di khayangan. Lihatlah ke angkasa, mereka selalu mengintip dari balik tebaran mega, memastikan aku baik dan jaya semata. Kuncilah mulutmu selama aku pergi, wahai perempuan. Siapapun tak boleh mengetuk dan membuka pintunya”. Kamu pasti masih ingat bagaimana setianya aku mematuhi pintamu hingga akhirnya kurir datang menenteng tubuh dan kepalamu. Terpisah. Aku menjerit. Aku menangis. Berbela sungkawa hingga ajalku tiba. Kamu tak mendengarkan apalagi menyimakku.

Enam episode telah kita lalui sebelum ini dalam kurun jutaan tahun cahaya. Apakah kita telah belajar sesuatu dari waktu yang fana? Kita terlahir sendirian dan kelak mati sendirian, tapi kita memang harus bertemu agar kita mengerti bahwa hidup menjadi lebih berarti manakala kita tak merasa kesepian dalam kesendirian. Aku terlahir untukmu, sebagaimana kaupun begitu. Kita terlahir untuk sebuah peradaban, sebagaimana peradaban pun tercipta untuk mendukung kita meraih bintang. Kita tercipta untuk suatu makna baik, yang seringkali tidak bisa langsung kita pahami tetapi tetap harus kita yakini. Kamu adalah makna itu bagiku. Aku adalah makna tersebut bagimu. Kita adalah makna baik untuk satu sama lain dan semesta. Keberadaanmu membuatku merasa tak lagi kesepian di ketinggian ini, aku telah menemukan tangan yang akan kugandeng sebagai sahabat dan belahan jiwa dalam perjalanan pulang menuju pelukNya.

Aku adalah Bintang.
Aku adalah bintang, sebagaimana juga kamu. Kita adalah ia yang tercipta dari pijaran cinta kasihNya. Kita adalah ia yang ikhlas mengamati dari kejauhan dan menunjukkan arah untuk lebih banyak lagi musafir yang sesat di tengah labirin gurun. Aku dan kamu adalah bintang-bintang dalam gugusan yang sendiri tapi tak merasa sepi karena kita tahu kita akan saling menjaga dan mencinta meski tak selalu bersama. Cinta kita memberi keleluasaan ruang dan waktu, sebab kita tahu sesuatu yang telah termaktub pastilah akan menjadi. Kita telah pergi dan kembali, kita telah memenangi dan tertaklukkan, kita telah terbahak dan pernah tersedak, kita telah menangis dan ditangisi, kita telah menghancurkan dunia dengan kata-kata penuh murka yang tak pernah kita sangka kita punya, kita telah bangun puing-puingnya menjadi sebuah istana mungil yang kita tinggali bersama, kita telah menjadi binatang dan menjelma kembali menjadi manusia yang lebih sempurna. Aku adalah Bintang, bukan bintang. Bersamamu, takdirku kujelang.

Mbak Atun di multiply pagi ini menggelitik imajinasi kami untuk mempertanyakan pada diri sendiri…hidup hari tua macam apakah yang kami inginkan? dan inilah yang kutuliskan:

kakek dan nenek duduk berdampingan sambil menikmati teh dan hujan. si nenek tetap saja mengelap embun di kacamata si kakek karena panasnya teh, “jadi ingat hujan bulan juni 40 tahun yang lalu” dan si kakek berkata..”oh, waktu umur kamu 30 tahun ya?” lalu si nenek meninju lengan si kakek, “puass?!!”.
lalu mereka tertawa2 kecil mengingat hal2 sederhana, senang dan susah yang pernah mereka lewati bersama, membahas berbagai hal dengan ringan hati, sambil melihat cucu mereka main hujan-hujanan…sampai tak terasa adzan maghrib sudah hampir tiba. lalu si nenek berkata lagi, “aku senang setelah 40 tahun, kakek selalu jadi imam yang baik untuk keluarga ini dan sekarang sudah hafal juz amma” hahaha…
(realistis kan?)

(nah pertanyaan berikutnya adalah : kakek, siapakah engkau gerangan dan dimanakah dikau, kek? buatlah nenek tak jomblo lagi. katanya mau “grow old with you” kek film wedding singer…hahaha. kamu nongol dong di bulan juni…biar pas sama cerita nenek. hahaha)

Sejak aku menghirup harum namamu
pada sebuah senja yang tersenyum dulu,
aku merasa telah menemukan kepastian
dalam hidupku, bahwa ini adalah harum
yang akan kekal mengendap di dalam jiwaku

Sehingga, keseluruhan fikir pun langkah
padaku kemudian menjadi sebuah keniscayaan
dari jelmaan jiwamu yang musykil terbantah.

Dan kelak, pada suatu waktu ketika aku tawarkan
telapak tanganku untuk kau genggam lembut,
sesungguhnya hendak kubisikkan pula pada hatimu
untuk menyudahi ragu untuk berkemas menuju
muara cinta yang pernah kita angankan bersama.
Melepas sauh lalu mendayung jauh tanpa jenuh
dengan sebentang layar yang terpintal dari rasa

Sayang, tidakkah rasa takut sedikitpun tiada
pernah menjadi milik kita?

Ever since my heart smelled the fragrance of your name
In a certain moment of that smiling afternoon,
I knew that I’ve finally found the final certain,
That the fragrance of your name was the one
That would stay forever as sediment in my soul

Until, the whole thoughts and steps of mine
will surely become the reincarnation of your undeniable soul

Until one day, I gave my hands for you to hold,
To be gently twisted together with yours.
Then I’ll softly whisper to your heart;
Put down your doubts, pack our hopes
Together we shall sail to the ocean of love
Once we always had in mind

Hail the anchor and row without hesitation
- spread the sail made by the woven fabric of our love

Dear the beloved one, we shall never own fear.
Not even once.

-a souvenir from translation work. originally written in Bahasa Indonesia version by Bayu Aji Wisnugroho and translated by I and Imelda Tobing. hehehe-

DALAM HUJAN SORE INI

Sore itu di teras berlantai batu, mereka duduk berdampingan di sebuah ambin kayu berlapis bantal batik tipis. Si lelaki di sebelah kanan, tangan kanannya menjewer secangkir teh hangat yang asapnya mengepul mengembunkan kacamatanya. Si perempuan di sebelah kiri, tangan kirinya mencengkiwing secangkir teh hangat rasa peppermint. Si lelaki, lengan kirinya merangkul si perempuan dengan hangat. Si perempuan bersandar di bahu lelakinya tangan kanannya bertumpu di lutut si lelaki yang tertekuk. Mereka menatap hujan yang bersenandung riang, tik..tik..tik…bunyi hujan….

Hujan bagai tentara bersepatu lars, berderap gagah di genting yang menaungi mereka. Hujan bagai penari gemulai yang memilin diri diiringi orkestra semesta. Hujan menjadi genit, membuat angin tergoda mengayun mereka, daun-daun merunduk tersipu kala hujan menyentuh pipi-pipi mereka yang bersemu hijau, bunga-bunga mawar yang terangguk malu kala hujan menggelitik kelopak-kelopaknya yang merah muda. Hujan menjadi gagah, hujan menjadi lemah, hujan menjadi cantik, hujan menjadi tampan…Si perempuan menatap ke dagu si lelaki diatasnya, ia bangun sebentar dari bahunya yang kurus dan keras lalu mengusap embun di kacamata lelakinya dengan lembut. “Oh…” si lelaki kaget. Dia selalu melamun setiap kali menatap hujan. Sebenarnya mereka berdua sama-sama selalu melamun setiap kali menatap hujan. Perempuan itu meminta maaf karena mengejutkan lelaki itu, tetapi lelaki itu cuma menggeleng dan tersenyum lalu menarik perempuan itu lagi ke dalam bahunya. Lantas mereka kembali tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Hujan selalu menghantar mereka pada masa lalu. Entah kenapa selalu begitu jadinya….
“Sayang…kamu teringat dia ya?” tanya si perempuan itu tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun. Si lelaki tersedak lalu tertawa getir kecil, “Kamu selalu bisa membaca pikiranku. Sedikit…Kamu juga?”. Si perempuan tertawa, “Kamu juga bisa membaca pikiranku…ya aku ingat dia. Sedikit!”. Mereka tertawa berdua. Hangat lalu terdiam. “Tapi andai masih bersama dia, sore ini pasti aku sendiri”, celetuk perempuan itu, “Dia tidak suka hujan”. Si Lelaki tertawa meringis, “Aku malah tidak sempat tahu dia suka atau tidak dengan hujan. Aku sih selalu membayangkan dia suka hujan seperti halnya aku”. Mereka tertawa lagi, si perempuan menonjok lembut perut si lelaki,” Maunyaaaaa!!”. Lelaki itu terkekeh, “Ya mau dong…”

“Jadi kamu pengennya dia yang ada disini nih? Bukan aku?” rajuk si perempuan sambil tetap menonjok-nonjok lembut perut datar si lelaki. Si lelaki tersenyum arif, “Ngambek??”. Perempuan itu menggeleng dengan bibir mengerucut si lelaki langsung buru-buru meminta maaf. Tawa perempuan itu pecah, “Ahaha…siapa yang ngambek? aku cuma menggodamu. Kamu selalu tahu, aku tidak mempermasalahkan semua itu. Aku kan tidak bisa memenjara pikiranmu”. Si lelaki jadi ikut tertawa juga. Ia tahu itu dan itu membuatnya selalu merasa sayang dengan perempuan di sebelahnya. Ia tidak berusaha membentuk dirinya, ia cuma menjaganya, memoles bagian yang gumpil, memelester bagian yang retak dan membersihkannya hatinya dengan lembut. Ia selalu bisa berbagi apa saja dengannya, bahkan menertawakan masa lalu yang bagai komedi Ilahiah itu. Mereka bisa membicarakan masa Ialu dan para pelaku didalamnya tanpa merasa jengah dan terintimidasi karena mereka sadar masa lalu memang cuma sekali dan tak akan terulang lagi. Fakta mereka terima, salah mereka maafkan, masa depan yang belum pasti, tak mereka hiraukan. Ia merasa menemukan dirinya sendiri bersama perempuan itu.

“Kamu mungkin, yang berharap aku ini pacarmu yang hilang dulu? Ngaku aja!”, Lelaki itu tiba-tiba melepaskan pelukannya dan menepis si perempuan. Si perempuan tertawa lagi sambil buru-buru memeluk lelaki itu dengan hangatnya, “Balas dendam itu tidak baik, pangeran…”. Si lelaki kembali tertawa sambil sedikit memisuh karena aktingnya yang gagal. Perempuan itu membelai rambut si lelaki itu dengan wajah serius, “Kamu tuh…”. Perempuan itu tak menyangkal ia masih mencintai seseorang yang telah berlalu, cintanya pada setiap orang yang pernah ia cintai dalam hidupnya tak pernah mati baginya. Bahkan andai lelaki di sebelahnya tak membalas perasaannya atau pergipun, ia tahu ia akan tetap mencintainya dengan perasaan yang sama. Yang berubah adalah skala prioritas dan harapannya. Ia realistis saja orangnya. Dan lelaki disebelahnya, ia memberi harapan baru untuknya, yang sebenarnya sederhana saja. Lelaki itu tidak banyak meminta atau bertingkah macam-macam, sang perempuan tahu ia selalu bisa berbagi cerita dan pemikiran apapun dengannya tanpa harus merasa segan ataupun takut. Ia berterimakasih atas segala konspirasi semesta yang telah mempertemukan mereka berdua. Ia merasa menemukan dirinya sendiri bersama lelaki itu.

Hujan turun mereda. Bersijingkat di antara dedaunan dan konblok di halaman teras mereka. Dendang mereka berangsur pelan. Mereka masih duduk di ambin kayu berlapis bantal batik di teras rumah. Seekor katak melompat tanpa dosa, ketika si perempuan berbisik pada di cuping telinga si lelaki, “Seperti apakah rasanya dicintai seperti saat ini?”

- dalam hujan sore ini-

III

SEPTEMBER 2008
Aku mencintaimu karena hatiku tahu engkau layak mendapatkan segenap degupan di dada.

Aku mencintaimu karena engkau telah menjadikanku sosok yang lebih baik sebagaimana aku pun telah menjadikanmu demikian.

Aku mencintaimu karena telah membuatku menghormati keunikan dari “aku” dan “kamu” bahkan ketika keduanya melebur menjadi “kita” yang dewasa dan selalu bisa bekerja sama.

Aku mencintai “kami” yang saling berbagi dan saling menyayangi.

Aku mencintai senyummu yang turut mengembang kala aku bahagia, aku mencintai air matamu yang berlinang kala kita saling bergenggaman hati dan menyadari kita hanyalah butiran debu dalam gurun kehidupan.

Aku mencintai uluran tanganmu yang tak pernah diiringi banyak cakap setiap kali aku terperosok, aku mencintai punggungmu kalau kau berjalan di depanku dan memimpin kehidupanku, aku mencintai jalinan jemari kita kala kau berjalan disisiku menapaki hidup, aku mencintai lembut tanganmu yang membimbing bahuku, mendorongku kala aku merasa lelah.

Aku mencintai sujudmu dan tasbihmu pada-Nya yang telah menumbuhkan cinta ini diantara kita. Aku mencintai hatimu, kebaikanmu dan nilai-nilaimu yang tidak hanya menjadi rahmat bagiku, tetapi juga mereka yang mengenalmu.

Aku mencintaimu bukan karena apa-apa yang kutuliskan barusan mengenaimu.
Aku mencintaimu karena nuraniku percaya padamu dan berdesir karenamu,

Aku mencintaimu karena aku mencintaimu

- kenangan atas bulan Ramadhan terindah yang pernah kualami, mengalami dan mempelajari sendiri Unconditional Love. its for you, dear-

OKTOBER 2008
Bulan syawal ini mengingatkanku bahwa segala hal yang kita miliki tidak akan ada artinya jika kesehatan kita terganggu. Setelah Lebaran, aku terkapar karena typhus yang cukup memabukkan. Aku berjanji akan benar-benar menjaga kesehatanku lebih baik lagi.

Bulan Syawal ini juga menjadi semacam kelahiran lagi (reborn) bagiku. Teman-teman lama yang sempat menghilang kembali berdatangan mewarnai kehidupanku. Beberapa tali silahturrahmi yang sempat terputus karena satu dan lain hal, kini terjalin kembali. Persahabatan-persahabatan barupun mulai terasa erat. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari memiliki sahabat dan keluarga di sekeliling kita, bukan?

Adikku, Rifi –orang yang paling membuatku meyakini bahwa pikiran dan niat kita memiliki kekuatan yang sama sekali tidak bisa diremehkan- akhirnya menemukan jodohnya. Banyak yang khawatir bahwa aku akan memberatkannya karena Rifi akan melangkahiku, tapi Alhamdulillah tidak. Aku bahagia untuknya dan berusaha membantunya mempersiapkan acara sebaik mungkin. Aku yakin, semua akan indah pada masanya giliranku tiba. Jodoh, hidup, mati dan rizki biarlah menjadi rahasia Allah semata.

NOVEMBER 2008
Tahun ajaran sekolah kehidupan ini sudah hampir usai. Tingkat kesulitan soal-soal yang diberikan semakin sulit dan rumit. Aku berharap aku dapat lulus dengan nilai yang memuaskan.

Kali ini bab yang diujikan adalah soal keyakinan dan kebenaran. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang sungguh amat sulit, mengungkapkan kebenaran dengan resiko dimusuhi atau mengubur kebenaran itu dan berkata dusta agar semua berjalan tampak baik-baik saja? Dan ketika tiba berbagai kesulitan karena mengungkapkan kebenaran itu, apakah aku masih dapat bertahan dengan keyakinan itu dan bersabar menghadapinya?

Sekali lagi, akhirnya pengalaman membuktikan bahwa cinta yang tulus dan tanpa pamrih adalah jawaban dan obat penawar segala masalah. Cinta yang kumaksud disini bukan hanya amor dan eros, tapi cinta dalam skala yang lebih luas. Cinta padaTuhan, keluarga, sahabat, lingkungan, perdamaian, kebaikan dan diri sendiri.

DESEMBER 2008
Everything has a beginning and an end.

And this is the end of 2008 and at the same time the beginning of my better life. Sekolah kehidupan tahun ajaran ini akhirnya akan segera usai dalam hitungan hari. Semua bab dari tiap mata pelajaran tampaknya telah usai diberikan dan bahkan kemarin, aku sudah menyelesaikan ujian akhirnya. Sulit, namun bukan berarti tidak bisa diselesaikan. Kurasa, alhamdulillah aku berhasil meski terluka disana-sini . Biarlah, ia akan segera mengering pada masanya.

Semua do’a, pertanyaan dan misteri tahun ini terjawab sudah. DitunjukkanNya padaku segala kebenaran mengenai segala sesuatu. Beberapa kenyataan memang menyakitkan, tetapi itu jauh lebih baik daripada menipu diri dengan kebahagiaan yang semu. Anggap saja kenyataan pahit itu bagai meminum obat pahit yang manjur menyembuhkan dan anggap saja segala yang manis belum tentu baik. Pahit jangan langsung dilepehkan dan manis jangan langsung ditelan. Yang jelas semuanya mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang amat sangat berharga. Setiap peristiwa, nama dan rasa yang kita alami, temui dan rasakan membawa makna dan takdirnya masing-masing. Kita semua adalah guru sekaligus murid untuk satu sama lain.

Cinta. Ketulusan. Kebaikan. Harapan. Keimanan. Keyakinan. Kepercayaan. Kerendah hatian. Kemerdekaan. Kecerdasan. Tanggung jawab. Kekuatan. Keberanian. Kesehatan. Persahabatan. Dukungan. Keterbukaan. Komunikasi. Kejujuran. Keberanian. Kekuatan hati dan pikiran. Kekeluargaan. Belajar. Kebijaksanaan.

Yesterday is history, tomorrow is mystery. Today is a gift, that’s why they called it Present. Sejarah telah terukir dan hari ini tengah kujalani. Mudah-mudahan segala kebaikan yang kuusahakan hari ini akan membuat hari ini dan masa depan menjadi lebih baik. 2008, biarlah menjadi kenangan manis dan sumber pengajaran dan kebijaksanaan di hari-hari tahun yang akan datang.

- teriring do’a dan ucapan terima kasih untuk guru-guru kehidupanku yang inspiratif; teman-teman yang sempat ter-tagged dan tidak. Semoga Allah selalu melindungi kalian dan membalas kebaikan kalian dengan kebahagiaan berlipat. Aku mencintai kalian-

II

MEI 2008
Aku berumur 30 tahun bulan ini.
Kata orang, 30 adalah tonggak sebuah babak baru menuju kematangan dan kesempurnaan diri. Kutatap wajah dan sosok tubuhku sendiri di cermin besar di rumahku. Kerut-kerut halus yang mulai timbul di wajah mengguratkan lelah perjalanan yang telah kutempuh. Aku telah tiba dalam Dzuhur usiaku. Aku telah tiba di usia dimana matahari tengah terik bersinar megah, dimana kebanyakan orang mulai meraih kejayaannya dan menikmati kemapanan masa mudanya. Senyumku tidak lagi merekah selebar-lebarnya, sebab kini aku sadar tidak ada yang abadi di dunia ini. Tidak perlu terlalu euforik menghadapi kesenangan dan kesedihan, biarkan saja semuanya mengalir. Arahkan saja dayungmu mengikuti petunjukNya. Itu saja. Cukuplah.

Ternyata kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan itu sama sekali tidak berkaitan dengan usia kita maupun seberapa banyak dan beragam peristiwa hidup yang telah kita jalani. Ketiga hal tersebut hanya akan didapat oleh mereka yang berani menghadapi kenyataan hidup, juga sadar bahwa selalu ada makna dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari setiap peristiwa “Membahagiakan” ataupun “Menyedihkan”. Hanya mereka yang bisa memahami bahwa segala bentuk peristiwa kehidupan adalah manifestasi cinta Tuhan yang akan membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik dan utuhlah yang akan beruntung menjalani hidup yang damai dan bahagia :-).

JUNI 2008
Do’aku agar diberikan selalu diberikan kebahagiaan dalam hidup meskipun di saat hidup tidak berjalan menyenangkan dikabulkanNya. Subhnallah, terpujilah namaMu yang memberikan bahagia di hati hambaMu yang hina ini. DipertemukanNya aku dengan orang-orang hebat yang sungguh inspiratif. Guru-guru yang membuka pemahamanku dan kesadaranku mulai berdatangan dalam hidupku. Dipertautkannya perjalananku dengan saudara-saudara baru yang begitu penuh sikap positif, suportif dan tulus saling membantu menuju Ia yang satu. Ditegarkan dan dikuatkanNya hatiku untuk menerima pelajaran-pelajaran yang sungguh berharga dalam hidup-yang kadang datang dengan cara yang menguncangkan dan memedihkan, diberiNya aku kehormatan untuk mengetahui banyak hal besar terlebih dahulu, diberiNya aku kehormatan untuk juga memberikan pelajaran dan pendampingan untuk mereka yang membutuhkannya. Do’aku sungguh-sungguh telah dijawab. Ternyata selama ini, Allah bukannya tidak mendengarkan do’a-doaku tersebut…Ia hanya mempersiapkan rencana yang lebih baik untukku dan memberikannya padaku di saat yang tepat.

Bulan ini aku juga belajar satu hal baru lagi…keberanian untuk mencintai. Cinta yang tanpa embel-embel macam-macam, tanpa banyak alasan…cukup merasa cinta saja. Tetap cinta meski mungkin tak selalu berbalas atau tak selalu berhasil. Akhirnya kumafhumi benar sekali Lao Tze berkata: Dicintai secara mendalam oleh orang lain memang memberi kita kekuatan tapi mencintai seseorang secara mendalam memberi kita keberanian. Sekali lagi terima kasih untuk si “bapak” yang berhasil membangkitkan keberanianku dan memberiku kekuatan baru untuk menapaki jalan menuju spiritualitas yang lebih tinggi.

JULI 2008
Tidak pernah ada suatu hal yang terjadi sia-sia. Sesungguhnya hidup itu adalah serangkaian kebetulan-kebetulan yang tidak kebetulan :D. I’m in the top of my world. Inilah puncak tahunku dan titik balik hidupku, ufuk timur pengembangan diriku.

Secara bergurau, aku pernah berkata pada salah satu sahabatku Regy, di bulan ini seolah kami semua mendapat begitu banyak pelajaran tambahan di sekolah kehidupan. Jika dalam catur wulan pertama kami harus belajar satu bab setiap bulan, maka di bulan ini kami mendapatkan test untuk menguji pemahaman kami atas semua yang kami pelajari selama catur wulan pertama. Lalu setelahnya kami juga masih harus belajar beberapa bab baru sekaligus yang tentunya lebih berat : Keyakinan, kepercayaan dan keterbukaan atas segala kemungkinan dalam hidup.

Aku mengalami serangkaian peristiwa –dalam pekerjaan, keluarga, kehidupan sosial dan percintaan- yang memaksaku terbangun dan mengkaji ulang nilai-nilai yang selama ini kuanut. Apakah memang aku sungguh meyakininya dengan dasar yang kuat atau aku hanya sekedar jadi domba ngantuk yang mengikuti saja kemanapun norma masyarakat menggiringku? Padahal ternyata banyak sekali nilai di masyarakat yang bertentangan dengan nuraniku. Terjadi banyak perdebatan dalam benakku, bisa kudengar dengan jelas dentingan pedang dalam pertempuran malaikat dan setan dalam pikirku. Apakah aku menjalani hidup yang tepat atau hidup yang benar?

AGUSTUS 2008
Satu kisah yang mata menarik dari bulan ini adalah mengenai kebebasan (dalam segala hal termasuk bebas untuk bahagia, bebas dari rasa takut dan bebas untuk memilih secara bertanggung jawab). Seseorang yang mendekatiku dan menyatakan cinta padaku di akhir bulan lalu tiba-tiba saja tanpa prolog, memutuskanku di hari kemerdekaan, dengan alasan ia ingin membebaskanku dari derita berada dalam sebuah hubungan. Ia begitu takut, bahwa sejarah hidupnya, lalu kemampuan supranaturalistik yang dimilikinya dan kemungkinan konsekuensi kemampuannya di masa depan akan mempersulit hubungan kami dan akhirnya membawa pada ujung yang menyakitkan. Meski tentu saja aku tahu benar itu hanyalah sebuah alasan mengada-ada untuk memutuskan hubungan karena ia tidak bisa berpikir panjang *halahhh,kikiiii….masih keki dan emosi nih yeee*, tapi mau tidak mau memang membuatku berpikir mengenai banyak hal.

Misalnya kenyataan bahwa kebanyakan manusia, termasuk aku, cenderung “menolak untuk bahagia” karena ketakutan bawah sadarnya akan fakta bahwa tidak ada sesuatu yang kekal abadi dan kemungkinan rasa sakit yang akan dialami saat kehilangan sesuatu yang membuatnya bahagia. Sehingga, tanpa sadar hal ini menimbulkan kontradiksi, antara keinginan abadi untuk merasa bahagia dan ketakutan bahwa kebahagiaan itu tidak akan abadi (dan memang segalanya fana belaka). Aku abai bahwa seharusnya aku sadar, ketakutan akan penderitaan lebih menyakitkan dan menyiksa daripada penderitaan itu sendiri.

Lalu tentang kebebasan itu sendiri, kupikir kemerdekaan/kebebasan yang absolut itu sesungguhnya tidak pernah ada. Yang ada adalah kemerdekaan dan kebebasan untuk memilih apapun yang kita suka dan lalu berkomitmen pada diri sendiri untuk menjalani keputusan dan pilihan kita secara bertanggung jawab. Tuhan memberikan banyak pertanda dalam kehidupan kita sebagai panduan untuk memilih dengan kehendak bebas (free will) kita secara sadar dan bertanggung jawab. Pertanda datang melalui mimpi, inspirasi, kejadian, perkataan orang lain dll. Seseorang dengan kesadaran yang lebih tinggi akan mampu memilah pertanda dan maknanya, antara bisikan nurani dan dorongan ego.

Mengenai kemampuan dan kekuatan supranaturalistik tersebut, aku dan beberapa teman bersepakat, sebuah kekuatan (Power) ataupun energi yang besar perlu diolah dengan kebijaksanaan, kasih dan etika. Tanpa kebijaksanaan, sebuah kekuatan akan menjadi pameran semata. Tanpa kasih, sebuah kekuatan akan mudah menjadi frustrasi dan kemarahan, tanpa etika sebuah kekuatan adalah ketidakmatangan dan akan menjadi “kesewenangan”. Pertanyaannya adalah : lalu apa – so what- yang akan diperbuat dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki?

Older Posts »