II
December 27, 2008 by guru-tengil
Aku berumur 30 tahun bulan ini.
Kata orang, 30 adalah tonggak sebuah babak baru menuju kematangan dan kesempurnaan diri. Kutatap wajah dan sosok tubuhku sendiri di cermin besar di rumahku. Kerut-kerut halus yang mulai timbul di wajah mengguratkan lelah perjalanan yang telah kutempuh. Aku telah tiba dalam Dzuhur usiaku. Aku telah tiba di usia dimana matahari tengah terik bersinar megah, dimana kebanyakan orang mulai meraih kejayaannya dan menikmati kemapanan masa mudanya. Senyumku tidak lagi merekah selebar-lebarnya, sebab kini aku sadar tidak ada yang abadi di dunia ini. Tidak perlu terlalu euforik menghadapi kesenangan dan kesedihan, biarkan saja semuanya mengalir. Arahkan saja dayungmu mengikuti petunjukNya. Itu saja. Cukuplah.
Ternyata kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan itu sama sekali tidak berkaitan dengan usia kita maupun seberapa banyak dan beragam peristiwa hidup yang telah kita jalani. Ketiga hal tersebut hanya akan didapat oleh mereka yang berani menghadapi kenyataan hidup, juga sadar bahwa selalu ada makna dan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari setiap peristiwa “Membahagiakan” ataupun “Menyedihkan”. Hanya mereka yang bisa memahami bahwa segala bentuk peristiwa kehidupan adalah manifestasi cinta Tuhan yang akan membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik dan utuhlah yang akan beruntung menjalani hidup yang damai dan bahagia :-).
JUNI 2008
Do’aku agar diberikan selalu diberikan kebahagiaan dalam hidup meskipun di saat hidup tidak berjalan menyenangkan dikabulkanNya. Subhnallah, terpujilah namaMu yang memberikan bahagia di hati hambaMu yang hina ini. DipertemukanNya aku dengan orang-orang hebat yang sungguh inspiratif. Guru-guru yang membuka pemahamanku dan kesadaranku mulai berdatangan dalam hidupku. Dipertautkannya perjalananku dengan saudara-saudara baru yang begitu penuh sikap positif, suportif dan tulus saling membantu menuju Ia yang satu. Ditegarkan dan dikuatkanNya hatiku untuk menerima pelajaran-pelajaran yang sungguh berharga dalam hidup-yang kadang datang dengan cara yang menguncangkan dan memedihkan, diberiNya aku kehormatan untuk mengetahui banyak hal besar terlebih dahulu, diberiNya aku kehormatan untuk juga memberikan pelajaran dan pendampingan untuk mereka yang membutuhkannya. Do’aku sungguh-sungguh telah dijawab. Ternyata selama ini, Allah bukannya tidak mendengarkan do’a-doaku tersebut…Ia hanya mempersiapkan rencana yang lebih baik untukku dan memberikannya padaku di saat yang tepat.
Bulan ini aku juga belajar satu hal baru lagi…keberanian untuk mencintai. Cinta yang tanpa embel-embel macam-macam, tanpa banyak alasan…cukup merasa cinta saja. Tetap cinta meski mungkin tak selalu berbalas atau tak selalu berhasil. Akhirnya kumafhumi benar sekali Lao Tze berkata: Dicintai secara mendalam oleh orang lain memang memberi kita kekuatan tapi mencintai seseorang secara mendalam memberi kita keberanian. Sekali lagi terima kasih untuk si “bapak” yang berhasil membangkitkan keberanianku dan memberiku kekuatan baru untuk menapaki jalan menuju spiritualitas yang lebih tinggi.
JULI 2008
Tidak pernah ada suatu hal yang terjadi sia-sia. Sesungguhnya hidup itu adalah serangkaian kebetulan-kebetulan yang tidak kebetulan :D. I’m in the top of my world. Inilah puncak tahunku dan titik balik hidupku, ufuk timur pengembangan diriku.
Secara bergurau, aku pernah berkata pada salah satu sahabatku Regy, di bulan ini seolah kami semua mendapat begitu banyak pelajaran tambahan di sekolah kehidupan. Jika dalam catur wulan pertama kami harus belajar satu bab setiap bulan, maka di bulan ini kami mendapatkan test untuk menguji pemahaman kami atas semua yang kami pelajari selama catur wulan pertama. Lalu setelahnya kami juga masih harus belajar beberapa bab baru sekaligus yang tentunya lebih berat : Keyakinan, kepercayaan dan keterbukaan atas segala kemungkinan dalam hidup.
Aku mengalami serangkaian peristiwa –dalam pekerjaan, keluarga, kehidupan sosial dan percintaan- yang memaksaku terbangun dan mengkaji ulang nilai-nilai yang selama ini kuanut. Apakah memang aku sungguh meyakininya dengan dasar yang kuat atau aku hanya sekedar jadi domba ngantuk yang mengikuti saja kemanapun norma masyarakat menggiringku? Padahal ternyata banyak sekali nilai di masyarakat yang bertentangan dengan nuraniku. Terjadi banyak perdebatan dalam benakku, bisa kudengar dengan jelas dentingan pedang dalam pertempuran malaikat dan setan dalam pikirku. Apakah aku menjalani hidup yang tepat atau hidup yang benar?
AGUSTUS 2008
Satu kisah yang mata menarik dari bulan ini adalah mengenai kebebasan (dalam segala hal termasuk bebas untuk bahagia, bebas dari rasa takut dan bebas untuk memilih secara bertanggung jawab). Seseorang yang mendekatiku dan menyatakan cinta padaku di akhir bulan lalu tiba-tiba saja tanpa prolog, memutuskanku di hari kemerdekaan, dengan alasan ia ingin membebaskanku dari derita berada dalam sebuah hubungan. Ia begitu takut, bahwa sejarah hidupnya, lalu kemampuan supranaturalistik yang dimilikinya dan kemungkinan konsekuensi kemampuannya di masa depan akan mempersulit hubungan kami dan akhirnya membawa pada ujung yang menyakitkan. Meski tentu saja aku tahu benar itu hanyalah sebuah alasan mengada-ada untuk memutuskan hubungan karena ia tidak bisa berpikir panjang *halahhh,kikiiii….masih keki dan emosi nih yeee*, tapi mau tidak mau memang membuatku berpikir mengenai banyak hal.
Misalnya kenyataan bahwa kebanyakan manusia, termasuk aku, cenderung “menolak untuk bahagia” karena ketakutan bawah sadarnya akan fakta bahwa tidak ada sesuatu yang kekal abadi dan kemungkinan rasa sakit yang akan dialami saat kehilangan sesuatu yang membuatnya bahagia. Sehingga, tanpa sadar hal ini menimbulkan kontradiksi, antara keinginan abadi untuk merasa bahagia dan ketakutan bahwa kebahagiaan itu tidak akan abadi (dan memang segalanya fana belaka). Aku abai bahwa seharusnya aku sadar, ketakutan akan penderitaan lebih menyakitkan dan menyiksa daripada penderitaan itu sendiri.
Lalu tentang kebebasan itu sendiri, kupikir kemerdekaan/kebebasan yang absolut itu sesungguhnya tidak pernah ada. Yang ada adalah kemerdekaan dan kebebasan untuk memilih apapun yang kita suka dan lalu berkomitmen pada diri sendiri untuk menjalani keputusan dan pilihan kita secara bertanggung jawab. Tuhan memberikan banyak pertanda dalam kehidupan kita sebagai panduan untuk memilih dengan kehendak bebas (free will) kita secara sadar dan bertanggung jawab. Pertanda datang melalui mimpi, inspirasi, kejadian, perkataan orang lain dll. Seseorang dengan kesadaran yang lebih tinggi akan mampu memilah pertanda dan maknanya, antara bisikan nurani dan dorongan ego.
Mengenai kemampuan dan kekuatan supranaturalistik tersebut, aku dan beberapa teman bersepakat, sebuah kekuatan (Power) ataupun energi yang besar perlu diolah dengan kebijaksanaan, kasih dan etika. Tanpa kebijaksanaan, sebuah kekuatan akan menjadi pameran semata. Tanpa kasih, sebuah kekuatan akan mudah menjadi frustrasi dan kemarahan, tanpa etika sebuah kekuatan adalah ketidakmatangan dan akan menjadi “kesewenangan”. Pertanyaannya adalah : lalu apa – so what- yang akan diperbuat dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki?