III
December 27, 2008 by guru-tengil
SEPTEMBER 2008
Aku mencintaimu karena hatiku tahu engkau layak mendapatkan segenap degupan di dada.
Aku mencintaimu karena engkau telah menjadikanku sosok yang lebih baik sebagaimana aku pun telah menjadikanmu demikian.
Aku mencintaimu karena telah membuatku menghormati keunikan dari “aku” dan “kamu” bahkan ketika keduanya melebur menjadi “kita” yang dewasa dan selalu bisa bekerja sama.
Aku mencintai “kami” yang saling berbagi dan saling menyayangi.
Aku mencintai senyummu yang turut mengembang kala aku bahagia, aku mencintai air matamu yang berlinang kala kita saling bergenggaman hati dan menyadari kita hanyalah butiran debu dalam gurun kehidupan.
Aku mencintai uluran tanganmu yang tak pernah diiringi banyak cakap setiap kali aku terperosok, aku mencintai punggungmu kalau kau berjalan di depanku dan memimpin kehidupanku, aku mencintai jalinan jemari kita kala kau berjalan disisiku menapaki hidup, aku mencintai lembut tanganmu yang membimbing bahuku, mendorongku kala aku merasa lelah.
Aku mencintai sujudmu dan tasbihmu pada-Nya yang telah menumbuhkan cinta ini diantara kita. Aku mencintai hatimu, kebaikanmu dan nilai-nilaimu yang tidak hanya menjadi rahmat bagiku, tetapi juga mereka yang mengenalmu.
Aku mencintaimu bukan karena apa-apa yang kutuliskan barusan mengenaimu.
Aku mencintaimu karena nuraniku percaya padamu dan berdesir karenamu,
Aku mencintaimu karena aku mencintaimu
- kenangan atas bulan Ramadhan terindah yang pernah kualami, mengalami dan mempelajari sendiri Unconditional Love. its for you, dear-
OKTOBER 2008
Bulan syawal ini mengingatkanku bahwa segala hal yang kita miliki tidak akan ada artinya jika kesehatan kita terganggu. Setelah Lebaran, aku terkapar karena typhus yang cukup memabukkan. Aku berjanji akan benar-benar menjaga kesehatanku lebih baik lagi.
Bulan Syawal ini juga menjadi semacam kelahiran lagi (reborn) bagiku. Teman-teman lama yang sempat menghilang kembali berdatangan mewarnai kehidupanku. Beberapa tali silahturrahmi yang sempat terputus karena satu dan lain hal, kini terjalin kembali. Persahabatan-persahabatan barupun mulai terasa erat. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari memiliki sahabat dan keluarga di sekeliling kita, bukan?
Adikku, Rifi –orang yang paling membuatku meyakini bahwa pikiran dan niat kita memiliki kekuatan yang sama sekali tidak bisa diremehkan- akhirnya menemukan jodohnya. Banyak yang khawatir bahwa aku akan memberatkannya karena Rifi akan melangkahiku, tapi Alhamdulillah tidak. Aku bahagia untuknya dan berusaha membantunya mempersiapkan acara sebaik mungkin. Aku yakin, semua akan indah pada masanya giliranku tiba. Jodoh, hidup, mati dan rizki biarlah menjadi rahasia Allah semata.
NOVEMBER 2008
Tahun ajaran sekolah kehidupan ini sudah hampir usai. Tingkat kesulitan soal-soal yang diberikan semakin sulit dan rumit. Aku berharap aku dapat lulus dengan nilai yang memuaskan.
Kali ini bab yang diujikan adalah soal keyakinan dan kebenaran. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang sungguh amat sulit, mengungkapkan kebenaran dengan resiko dimusuhi atau mengubur kebenaran itu dan berkata dusta agar semua berjalan tampak baik-baik saja? Dan ketika tiba berbagai kesulitan karena mengungkapkan kebenaran itu, apakah aku masih dapat bertahan dengan keyakinan itu dan bersabar menghadapinya?
Sekali lagi, akhirnya pengalaman membuktikan bahwa cinta yang tulus dan tanpa pamrih adalah jawaban dan obat penawar segala masalah. Cinta yang kumaksud disini bukan hanya amor dan eros, tapi cinta dalam skala yang lebih luas. Cinta padaTuhan, keluarga, sahabat, lingkungan, perdamaian, kebaikan dan diri sendiri.
DESEMBER 2008
Everything has a beginning and an end.
And this is the end of 2008 and at the same time the beginning of my better life. Sekolah kehidupan tahun ajaran ini akhirnya akan segera usai dalam hitungan hari. Semua bab dari tiap mata pelajaran tampaknya telah usai diberikan dan bahkan kemarin, aku sudah menyelesaikan ujian akhirnya. Sulit, namun bukan berarti tidak bisa diselesaikan. Kurasa, alhamdulillah aku berhasil meski terluka disana-sini . Biarlah, ia akan segera mengering pada masanya.
Semua do’a, pertanyaan dan misteri tahun ini terjawab sudah. DitunjukkanNya padaku segala kebenaran mengenai segala sesuatu. Beberapa kenyataan memang menyakitkan, tetapi itu jauh lebih baik daripada menipu diri dengan kebahagiaan yang semu. Anggap saja kenyataan pahit itu bagai meminum obat pahit yang manjur menyembuhkan dan anggap saja segala yang manis belum tentu baik. Pahit jangan langsung dilepehkan dan manis jangan langsung ditelan. Yang jelas semuanya mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang amat sangat berharga. Setiap peristiwa, nama dan rasa yang kita alami, temui dan rasakan membawa makna dan takdirnya masing-masing. Kita semua adalah guru sekaligus murid untuk satu sama lain.
Cinta. Ketulusan. Kebaikan. Harapan. Keimanan. Keyakinan. Kepercayaan. Kerendah hatian. Kemerdekaan. Kecerdasan. Tanggung jawab. Kekuatan. Keberanian. Kesehatan. Persahabatan. Dukungan. Keterbukaan. Komunikasi. Kejujuran. Keberanian. Kekuatan hati dan pikiran. Kekeluargaan. Belajar. Kebijaksanaan.
Yesterday is history, tomorrow is mystery. Today is a gift, that’s why they called it Present. Sejarah telah terukir dan hari ini tengah kujalani. Mudah-mudahan segala kebaikan yang kuusahakan hari ini akan membuat hari ini dan masa depan menjadi lebih baik. 2008, biarlah menjadi kenangan manis dan sumber pengajaran dan kebijaksanaan di hari-hari tahun yang akan datang.
- teriring do’a dan ucapan terima kasih untuk guru-guru kehidupanku yang inspiratif; teman-teman yang sempat ter-tagged dan tidak. Semoga Allah selalu melindungi kalian dan membalas kebaikan kalian dengan kebahagiaan berlipat. Aku mencintai kalian-
Instead of loving you ‘back’, I wish everyone you love shall be able to love everyone else ‘forward’.
Amin.
http://dannywijaya.blog.friendster.com/2007/06/surat-seorang-nenek-buat-cucunya-yang-patah-hati/