DALAM HUJAN SORE INI
March 11, 2009 by guru-tengil
Hujan bagai tentara bersepatu lars, berderap gagah di genting yang menaungi mereka. Hujan bagai penari gemulai yang memilin diri diiringi orkestra semesta. Hujan menjadi genit, membuat angin tergoda mengayun mereka, daun-daun merunduk tersipu kala hujan menyentuh pipi-pipi mereka yang bersemu hijau, bunga-bunga mawar yang terangguk malu kala hujan menggelitik kelopak-kelopaknya yang merah muda. Hujan menjadi gagah, hujan menjadi lemah, hujan menjadi cantik, hujan menjadi tampan…Si perempuan menatap ke dagu si lelaki diatasnya, ia bangun sebentar dari bahunya yang kurus dan keras lalu mengusap embun di kacamata lelakinya dengan lembut. “Oh…” si lelaki kaget. Dia selalu melamun setiap kali menatap hujan. Sebenarnya mereka berdua sama-sama selalu melamun setiap kali menatap hujan. Perempuan itu meminta maaf karena mengejutkan lelaki itu, tetapi lelaki itu cuma menggeleng dan tersenyum lalu menarik perempuan itu lagi ke dalam bahunya. Lantas mereka kembali tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Hujan selalu menghantar mereka pada masa lalu. Entah kenapa selalu begitu jadinya….
“Sayang…kamu teringat dia ya?” tanya si perempuan itu tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun. Si lelaki tersedak lalu tertawa getir kecil, “Kamu selalu bisa membaca pikiranku. Sedikit…Kamu juga?”. Si perempuan tertawa, “Kamu juga bisa membaca pikiranku…ya aku ingat dia. Sedikit!”. Mereka tertawa berdua. Hangat lalu terdiam. “Tapi andai masih bersama dia, sore ini pasti aku sendiri”, celetuk perempuan itu, “Dia tidak suka hujan”. Si Lelaki tertawa meringis, “Aku malah tidak sempat tahu dia suka atau tidak dengan hujan. Aku sih selalu membayangkan dia suka hujan seperti halnya aku”. Mereka tertawa lagi, si perempuan menonjok lembut perut si lelaki,” Maunyaaaaa!!”. Lelaki itu terkekeh, “Ya mau dong…”
“Jadi kamu pengennya dia yang ada disini nih? Bukan aku?” rajuk si perempuan sambil tetap menonjok-nonjok lembut perut datar si lelaki. Si lelaki tersenyum arif, “Ngambek??”. Perempuan itu menggeleng dengan bibir mengerucut si lelaki langsung buru-buru meminta maaf. Tawa perempuan itu pecah, “Ahaha…siapa yang ngambek? aku cuma menggodamu. Kamu selalu tahu, aku tidak mempermasalahkan semua itu. Aku kan tidak bisa memenjara pikiranmu”. Si lelaki jadi ikut tertawa juga. Ia tahu itu dan itu membuatnya selalu merasa sayang dengan perempuan di sebelahnya. Ia tidak berusaha membentuk dirinya, ia cuma menjaganya, memoles bagian yang gumpil, memelester bagian yang retak dan membersihkannya hatinya dengan lembut. Ia selalu bisa berbagi apa saja dengannya, bahkan menertawakan masa lalu yang bagai komedi Ilahiah itu. Mereka bisa membicarakan masa Ialu dan para pelaku didalamnya tanpa merasa jengah dan terintimidasi karena mereka sadar masa lalu memang cuma sekali dan tak akan terulang lagi. Fakta mereka terima, salah mereka maafkan, masa depan yang belum pasti, tak mereka hiraukan. Ia merasa menemukan dirinya sendiri bersama perempuan itu.
“Kamu mungkin, yang berharap aku ini pacarmu yang hilang dulu? Ngaku aja!”, Lelaki itu tiba-tiba melepaskan pelukannya dan menepis si perempuan. Si perempuan tertawa lagi sambil buru-buru memeluk lelaki itu dengan hangatnya, “Balas dendam itu tidak baik, pangeran…”. Si lelaki kembali tertawa sambil sedikit memisuh karena aktingnya yang gagal. Perempuan itu membelai rambut si lelaki itu dengan wajah serius, “Kamu tuh…”. Perempuan itu tak menyangkal ia masih mencintai seseorang yang telah berlalu, cintanya pada setiap orang yang pernah ia cintai dalam hidupnya tak pernah mati baginya. Bahkan andai lelaki di sebelahnya tak membalas perasaannya atau pergipun, ia tahu ia akan tetap mencintainya dengan perasaan yang sama. Yang berubah adalah skala prioritas dan harapannya. Ia realistis saja orangnya. Dan lelaki disebelahnya, ia memberi harapan baru untuknya, yang sebenarnya sederhana saja. Lelaki itu tidak banyak meminta atau bertingkah macam-macam, sang perempuan tahu ia selalu bisa berbagi cerita dan pemikiran apapun dengannya tanpa harus merasa segan ataupun takut. Ia berterimakasih atas segala konspirasi semesta yang telah mempertemukan mereka berdua. Ia merasa menemukan dirinya sendiri bersama lelaki itu.
Hujan turun mereda. Bersijingkat di antara dedaunan dan konblok di halaman teras mereka. Dendang mereka berangsur pelan. Mereka masih duduk di ambin kayu berlapis bantal batik di teras rumah. Seekor katak melompat tanpa dosa, ketika si perempuan berbisik pada di cuping telinga si lelaki, “Seperti apakah rasanya dicintai seperti saat ini?”
- dalam hujan sore ini-