EXCERPT FROM MY WRITINGS
March 11, 2009 by guru-tengil
PROLOG
Gulungan lontar riwayatku telah terbabar.
Sang Narada telah menceritakan semua.
Tentang aku.
Tentang Bintang.
Aku adalah Bintang. Aku adalah kedipan-kedipan cahaya yang selalu kau lihat dalam kelam malammu Aku adalah ia yang mengamati dari ketinggian, menatapmu penuh rindu dari kejauhan langit malam. Aku adalah ia yang tertakdir sebagai penuntunmu untuk kembali pulang ke tempat dari mana kau bermula. Meski berjauhan, aku tak pernah pergi. Dongakkan kepalamu pada hitam beledu kubah semesta kala kau tersesat, akan kau dapati aku tengah menunjukkan arah yang harus kau tempuh. Tanpa banyak cakap, tanpa banyak kata, hanya akan menemanimu. Aku pula yang tertakdir untuk menyingkap jati dirimu, sebagaimana kau telah tertakdir untuk membuka tabir sukma sejatiku.
Aku adalah bintang. Aku adalah ia yang tertulis mampu menyaksikan kelahiranku sendiri; yaitu masa dimana maha silau yang bermula dari ketiadaan meledak berkeping menjadi titik-titik pijar bola gas api dalam hampa udara hitam. Aku adalah ia yang tercipta dari tetes-tetes lesatan bintang berekor yang jatuh dan meresap dalam cawan kasih sayang ibunda. Dari kegelapan tempatku bergelung selama sembilan bulan telah kusaksikan riwayatku, riwayatmu, riwayat kita dan mereka. Riwayat bagaimana semua ini bermula dan bagaimana kelak ia akan berakhir.
Dalam nyenyakku di rahim ibunda, sambil menghisap jempol, telah kujelajahi ruang rasa dan riwayat, dari garis terbit matahari hingga sudut kelam dimana ia kelak tenggelam. Pada subuh yang membiarkan malam meluruh, pada terik siang yang membuat hari panas terpanggang dan pada malam yang menyamarkan semua mimpi dalam hitam. Pernah pula kutelusuri jejak-jejak degup kehidupan pada sepanjang biru debur laut dimana pulau-pulau terbaring telungkup diatasnya. Juga pada sepanjang naungan biru langit yang menudungi batu-batu yang bersemadi menjadi candi, pada sepanjang hijau-hijau pohon yang tampak berlarian di kanan kiri kita, pada gunung yang memelototi kita yang berlarian di bawah kakinya sambil merasa mengapa sepertinya aku dan kamu sudah pernah hidup dan bertemu sebelum ini. Pada suatu ketika, entah dimana, kita lupa.
Pernahkah terpikirkan olehmu, berapa kali kita hidup sebelum mati? Pernahkah tergagas dalam benakmu, engkau pernah menjadi sebongkah batu besar di pinggir derasnya sungai yang sebenarnya adalah aku. Pernahkah terlintas dalam kenanganmu ketika aku dan kamu adalah dua helai daun yang bersisian di kerimbunan pohon bodhi yang menaungi Sang Gautama? Ingatkah kamu, aku adalah bintang orion yang selalu menemanimu kala engkau menjadi rembulan. Kala engkau menjadi sabit gading, cawan ataupun bulat sempurna, aku tetap di sisimu.
Pernahkah kau sadari, kita telah bersama berkali-kali dan berkali-kali pula terpisah sebelum ini? Aku adalah Drupadi yang melenting berputar laksana gasing diujung kumparan ribuan meter kembenku saat Kurawa berusaha menyingkap tubuh yang sebenarnya hanya untukmu. Yudhistiraku tercinta, aku tak pernah menyalahkanmu meski aku gusar saat kau pertaruhkan tubuhku berjudi dadu melawan Kurawa. Sebab kutahu kau pasti kalah, sayangku. Kuingat kamu hanya tersenyum melengos ketika kukatakan firasatku. Kita tetap berangkat mengocok nasib lewat bintik-bintik dadu. Kau tak mendengar apalagi menyimakku. Dan aku tahu itu tak akan pernah berubah sampai ribuan tahun ke depan. Tapi kita tetap dan selalu saja bersama.
Aku tetap di sebelahmu, tak jemu untuk santun menyatakan firasat dan pertimbanganku untuk kebaikanmu. Aku adalah maharani bertunika biru yang duduk di kanan singgasanamu, yang menggenggam tanganmu erat dan berkata, “Jangan pergi, pedang mereka tak akan membuatmu kembali”. Dan kamu, masih dalam kemegahan dirimu, bangkit dari tahta keemasanmu sambil berbusung dada menonjolkan kilatan bebatuan lapis lazuli di atas zirah keperakan yang mencetak lekuk-lekuk ototmu. “Adrianus sang kaisar adalah pewaris dewa-dewi di khayangan. Lihatlah ke angkasa, mereka selalu mengintip dari balik tebaran mega, memastikan aku baik dan jaya semata. Kuncilah mulutmu selama aku pergi, wahai perempuan. Siapapun tak boleh mengetuk dan membuka pintunya”. Kamu pasti masih ingat bagaimana setianya aku mematuhi pintamu hingga akhirnya kurir datang menenteng tubuh dan kepalamu. Terpisah. Aku menjerit. Aku menangis. Berbela sungkawa hingga ajalku tiba. Kamu tak mendengarkan apalagi menyimakku.
Enam episode telah kita lalui sebelum ini dalam kurun jutaan tahun cahaya. Apakah kita telah belajar sesuatu dari waktu yang fana? Kita terlahir sendirian dan kelak mati sendirian, tapi kita memang harus bertemu agar kita mengerti bahwa hidup menjadi lebih berarti manakala kita tak merasa kesepian dalam kesendirian. Aku terlahir untukmu, sebagaimana kaupun begitu. Kita terlahir untuk sebuah peradaban, sebagaimana peradaban pun tercipta untuk mendukung kita meraih bintang. Kita tercipta untuk suatu makna baik, yang seringkali tidak bisa langsung kita pahami tetapi tetap harus kita yakini. Kamu adalah makna itu bagiku. Aku adalah makna tersebut bagimu. Kita adalah makna baik untuk satu sama lain dan semesta. Keberadaanmu membuatku merasa tak lagi kesepian di ketinggian ini, aku telah menemukan tangan yang akan kugandeng sebagai sahabat dan belahan jiwa dalam perjalanan pulang menuju pelukNya.
Aku adalah Bintang.
Aku adalah bintang, sebagaimana juga kamu. Kita adalah ia yang tercipta dari pijaran cinta kasihNya. Kita adalah ia yang ikhlas mengamati dari kejauhan dan menunjukkan arah untuk lebih banyak lagi musafir yang sesat di tengah labirin gurun. Aku dan kamu adalah bintang-bintang dalam gugusan yang sendiri tapi tak merasa sepi karena kita tahu kita akan saling menjaga dan mencinta meski tak selalu bersama. Cinta kita memberi keleluasaan ruang dan waktu, sebab kita tahu sesuatu yang telah termaktub pastilah akan menjadi. Kita telah pergi dan kembali, kita telah memenangi dan tertaklukkan, kita telah terbahak dan pernah tersedak, kita telah menangis dan ditangisi, kita telah menghancurkan dunia dengan kata-kata penuh murka yang tak pernah kita sangka kita punya, kita telah bangun puing-puingnya menjadi sebuah istana mungil yang kita tinggali bersama, kita telah menjadi binatang dan menjelma kembali menjadi manusia yang lebih sempurna. Aku adalah Bintang, bukan bintang. Bersamamu, takdirku kujelang.