KEPADA ANAKKU … a letter
April 2, 2009 by guru-tengil
Cirendeu, 1 April 2009
Anakku terkasih,
Dengan sepenuh cinta ibu tuliskan surat ini untukmu anakku. Kubiarkan cinta menggerakkan jari jemariku lincah berlompatan di atas tombol-tombol keyboard, untukmu yang akan terlahir tiga warsa dari sekarang. Hari ini sudah malam anakku,
Andai ibu tidak salah menuliskan wasiat, surat ini baru akan kamu baca di hari ulang tahunmu yang ke dua puluh tujuh. Mungkin ibu akan duduk di sampingmu saat kau membaca surat ini, baik mewujud raga atau hanya sekedar jiwa yang melayang memandangmu dari balik gerumbul mega. Ibu tidak pernah tahu berapa lama kita berdua akan hidup dan apakah akan pernah sampai waktu kita untuk membaca surat ini bersama-sama.
Surat ini ibu tulis tiga tahun sebelum tangis pertamamu memecah surya yang baru saja mendusin di ufuk timur. Ingatkah kamu akan hari kelahiranmu itu, putraku? Aku masih dapat mengingat jelas setiap rasa sakit dan perih juga lega ketika pertama kali kamu menatap dunia. Ya, ingatkah kamu…kau terlahir dengan mata yang terbuka lebar, selebar mulutmu yang menangis lantang hendak woro-woro pada dunia, “aku telah tibaaa!”. Aku masih dapat merasakan seluruh kerenyit nyeri itu, bahkan sekarang, tiga tahun sebelum engkau kulahirkan ke dunia, wahai anakku.
1 April 2012. Pada hari guyonan awal April itulah kamu lahir. Mungkin karena itu kamu tumbuh menjadi anak yang penuh humor. Ah, betapa kami, keluargamu ini begitu mencintaimu karenanya. Jagalah rasa humor itu dalam dirimu, nak. Ia begitu penting untuk menjaga kewarasanmu dalam menghadapi hidup yang kebanyakan…ehmm, berisi orang-orang yang kurang waras. Setiap kali melihatmu tertawa dengan gigimu yang baru tumbuh dua itu, ibu selalu merasa damai. Betapa polosnya kamu nak, betapa aku rindu masa ketika aku masih sekecil kamu. Bodoh dan tak tahu apa-apa, tetapi semua-bahkan semesta- memakluminya dan telaten mengajarkan kita segala hal yang katanya sih perlu kita ketahui. Kala memandangi nyenyak tidurmu, ibu berpikir betapa fananya hidup kita ini.
Nak, jika kau masih sempat membaca surat ini kelak, itu pertanda bahwa memang dalam hidup tidak ada yang pasti dan sungguh sebuah misteri Ilahi. Kukatakan demikian padamu, sebab sesungguhnya saat inipun hampir seluruh dunia tengah bersiap menyambut akhir opera terbesar sepanjang masa : Kehidupan Kita, yang konon akan berakhir sehari sebelum hari ibu tahun 2012. Mungkin saat membaca baris barusan, kamu akan tersenyum atau bahkan terkekeh geli seperti saat gigimu cuma dua. Tapi begitulah, nak…saat ini ibu dan ayah hidup di jaman dimana manusia tengah sadar-sadarnya akan potensi optimum dirinya; menjadi Tuhan bagi semesta raya-bahkan universisnya. Kita tengah mendaki setapak lagi menuju titik puncak peradaban, nak. Dan kau tentunya sudah mafhum dengan apa yang akan terjadi ketika kau telah mencapai puncak; kau tidak punya pilihan lain selain turun. Baik perlahan maupun menukik tajam dan terjungkal berkeping tanpa ampun. Semoga Tuhan tidak mem-Kun Fayakun-kan skenario ini, anakku. Ibu dan ayah masih ingin melihatmu tumbuh dewasa dan berkembang menjadi manusia muslim Nusantara yang utuh, seperti yang selalu ibu lihat dalam mimpi-mimpi ibu belakangan ini.
Semalam adalah kali ketujuh aku memimpikan kelahiranmu. Masih adegan yang sama. Butiran keringat sebesar jagung yang merangsek jangat. Gemeretak geligi bagai decit gesek roda kereta api melindas rel dalam perjalanan ke negeri entah. Air mata mengalir deras bagai sungai yang tergesa ingin segera menjumpai muara. Kau menggedor dinding-dinding rahimku lebih keras lagi, tak sabar ingin segera menjumpai dunia sekaligus juga merasa sedikit ngeri dengan apa yang menunggumu di luar sana. Seolah kamu bimbang anakku. Aku tidak akan menyalahkanmu. Dunia memang bukanlah tempat yang menjanjikan keamanan dan kenyamanan penuh bagai kasih-rahim ibunda tempatmu bertapa sembilan candra lamanya. Tapi disinilah tempatmu seharusnya berada. Bukan dalam tubuh atau anganku selamanya. Dan begitulah anakku, tepat ketika semburat mentari tampak di horizon,kamu tergelontor keluar. Begitu megah dan merah seperti terbitnya mentari itu sendiri.
Sakti.
Kunamai kamu Sakti.
Sakti.
Sakit.
Kamu lihat anakku, tiga kata yang jauh maknanya bagaikan matahari, Neptunus dan Pluto itu tersusun dari huruf-huruf yang sama. Aku percaya dan akupun ingin kamu percaya, setiap nama mengandung do’a harapan dan juga makna. Setiap huruf dan susunannnya memiliki nasib dan takdirnya sendiri. Seperti juga namamu, nak. Ejalah namamu aksara demi aksara. Pahamilah esensi eksistensi setiap huruf itu, sebelum kau mewujudkan takdir namamu. Kesaktian tanpa kebijaksanaan adalah sakit, anakku.
Dan camkanlah, namamu Sakti
Bukan Sakit.
Ibu lupa menanyakan bagaimanakah kabarmu hari ini, nak? Apakah kabarmu tetap sebaik dan sebahagia kemarin dan juga esok? Ataukah dunia telah meracuni hatimu dengan prasangka dan apatisme basi? Apakah yang sedang kamu lakukan sekarang, nak? Apakah kamu tengah bersepeda menyusuri tepian kali di dekat rumah kita atau mengendara bis atau mobil membelah jangkungnya kota? Aku percaya kota kita akan tumbuh lebih cepat darimu ataupun bibit melati yang tadi sore ibu tanam. Aku sangsi kamu akan sempat mengenal sepeda. Lebih lagi, aku sangsi kamu akan mengemudikannya menyusuri kali. Saat surat ini kamu baca, kali itu mungkin sudah menjadi sebuh comberan maha besar atau malah mengering mengerak pecah seperti telapak kaki ibu sekarang. Ah, jadi mengingatkan ibu untuk mengoleskan lotion pelembut kaki. Ibu ingin meninggalkan jejak yang baik untukmu, nak. Yah, yang baik…
Aku tidak tahu, apakah sudah kau sadari bahwa baik dan buruk sebenarnya adalah satu belaka. Tidak ada sesuatu yang terlalu buruk untuk terjadi, anakku. Semua memiliki suatu maksud yang mungkin hanya akan kita ketahui pada musimnya, pada masanya. Bertemu ayahmu dan lantas memiliki kamu, kamu yang sakti, juga memiliki suatu maksud. Ayahmu orang yang baik, nak. Jangan kau pedulikan apa yang dikatakan sejarah mengenai ayahmu atau bagaimana kami dulu bertemu. Kamu harus mampu melihat langsung ke kedalaman nurani seseorang dan kamupun harus meyakini apa yang dikatakan nuranimu mengenai nurani seseorang. Baik dan buruk bergantung pada pikir, didikan dan pengalaman hidupmu, nak. Baikmu belum tentu baikku dan sebaliknya. Jika kamu yang terlahir dariku saja memiliki konsep yang berbeda mengenai baik dan buruk, apalagi orang lain. Aku cuma memintamu satu hal, bergerak dan menjelmalah berdasarkan nuranimu.
Jagalah ia baik-baik anakku. Gunakan ia tanpa sungkan, setiap saat. Cuma itu satu-satunya benda, anggota tubuhmu yang bisa kamu andalkan. Terlebih lagi dimasa ketika kamu membaca surat ini, di masa dimana aku yakin kamu sudah menyadari siapa sesungguhnya kamu. Dunia akan terasa menjadi lebih kelam dan pahit, terlebih dengan tugas-tugas spiritual yang menantimu. Aku tidak akan mendustaimu mengenai kenyataan itu. Semakin dekat kamu dengan apa yang akan kamu menjadi, jalanmu akan semakin memerihkan telapak hati. Kamu akan semakin mudah lelah dan merasa sendirian. Amat sedikit sekali orang yang mengerti apa yang kamu alami dan amat banyak sekali orang yang mencibir dan membencimu. Mimpi-mimpimu yang mudah menjadi nyata akan dianggap sesat. Terawangmu mengenai kenyataan hidup yang sesungguhnya akan membuatmu dikerubuti banyak orang namun sekaligus juga membuatmu ditinggalkan banyak orang. Manusia, anakku, hanya senang mendengarkan hal-hal yang menyenangkan. Pesan ibu, fokuslah pada dirimu sendiri. Sia-sia saja kamu berharap dapat menyembuhkan dunia dan menjadikannya tempat yang lebih baik. Dunia tidak bisa disembuhkan. Ia sesempurna rupa dan keadaannya saat ini, kemarin dan nanti.
Hayatilah hidupmu sebagai pengalaman yang indah, Sakti anakku. Percayalah padaku, bahkan peperangan, tangis, luka dan kemarahan adalah juga bagian dari keindahan hidup itu sendiri. Bahagia tak terukur dari gelak tawa, keindahan bukan berarti apa yang tampak indah dimata. Sedih tak melulu duka, selalu ada hikmah yang menyertainya.
Malam masih saja kelam,nak. Langit Cirendeu tempat ibu tinggal belakangan ini begitu resah dan berduka. Belum-belum kamu lahir, Situ Gintung yang indah ini telah jebol dan terkuras habis. Padahal ibu ingin sekali menanyakan padamu, bagaimanakah keadaan Situ Gintung saat kau membaca surat ini? Masih seindah seminggu yang lalu sebelum ibu menulis surat inikah saat segalanya masih tampak begitu kokoh dan teguh? Sudahkah waduknya terbangun lagi dan terisi lagi airnya seperti yang dijanjikan pemerintah hari ini? Apa pendapatmu anakku? Masih pentingkah semua itu untuk ibu pikirkan? Televisi telah membuat begitu banyak bencana alam yang terjadi belakangan ini kadang terlihat tidaklah lebih penting dari begitu banyak hal lain yang terjadi hari ini : gelembung yang pecah dari liur politisi yang hari ini sibuk obral janji ditemani goyang dangdut penyanyi seksi, harga-harga yang sedang berstrategi untuk naik ataupun turun, berita perceraian dan pernikahan bahkan cukuran rambut seorang bintang sinetron basi. Jujur saja kadang ibu merasa bersalah, nak. Kami menonton tangis pilu mereka kehilangan harta dan sanak saudara sambil menikmati makan malam hari ini. Kami berpesta kembang api di malam tahun baru, saat bocah-bocah tak berdosa di belahan dunia lain tengah ketakutan melihat pendaran cahaya mematikan serupa kembang api di udara : lesatan rudal dan entah senjata apa lagi. Warta-warta tentang duka cita dan peperangan diselingi iklan yang mengatakan putih itu cantik, memiliki rumah di komplek anu serasa tinggal di surga dunia atau istri berbakti rajin mencuci baju dan panic. Pikirkanlah anakku…apakah hal yang terpenting dalam hidupmu?
Ibu yakin, kelak saat membaca surat ini, kamu telah menjelma seorang pemuda paripurna, yang siap menghadapi dunia dengan kepala tegak meski di sekeliling parang dan panah mengarah kepadamu. Apakah kamu merasa lelah dan jenuh hari ini? Begitu capek dengan segala berita tentang dunia dan teman-teman yang selalu mengeluh dan letih mengejar uang yang penuh darah, air mata juga peluh? Hidup memang fana, Sakti, anakku. Kita berdua hanyalah remah-remah waktu, nak. Hidup, setelah itu mati. Kamu dan aku sama tidak pentingnya dengan titik pasir di tepian pantai; namun di saat yang bersamaan kita berdua tahu ada tugas pentingn yang kita emban bersama. Tugasmu di kurun waktu yang entah ini hanya satu nak, menjadi manusia. Sebenar-benar manusia.
Ibu mencintaimu, nak. Ibu mencintaimu bahkan jauh sebelum ibu berjumpa denganmu, bagaimanapun rupa atau keadaanmu kelak. Baik sesuai atau tidak dengan apa yang terwangsit dalam mimpi-mimpi ibu belakangan ini. Jangan pernah kau ragu akan hal itu. Sebagaimana ibu juga mencintai ayahmu jauh sebelum kami bertemu. Bukan karena rupa atau hartanya, nak. Ibu tidak tahu ibu kelak akan berjodoh dengan siapa. Ibu tidak tahu siapa yang akan menjadi ayahmu, namun aku tahu hatiku akan ditambatkan pada dermaga hati seseorang yang memiliki kebaikan dan ketulusan dalam dirinya dan memiliki rasa hormat yang baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, lingkungannya dan terutama, Tuhannya. Kamu adalah buah cinta, nak…bukan sekedar buah nafsu. Ingatlah itu baik-baik. Begitu lama aku menunggu datangnya ayahmu, nak…telah kutemui ragam lagak lelaki sebelum ini dan ibu bersyukur Tuhan membuatku sabar menunggu, meniti jalan berliku karena telah kudapatkan ia yang dimaksudkan untukku. Semoga engkau kelak dapat mengikuti jejaknya, nak.
Sungguh ibu berharap dapat menemanimu membaca surat ini, tapi marilah kita biarkan hidup mengalir sebagaimana adanya. Jalani saja detik ini sebaik kita bisa nak. Tidak perlu terlalu bersedih jika salah satu dari kita dipanggil terlebih dahulu, tidak perlu khawatir jika saat ini kau sudah berada entah di negeri berantah. Engkau selalu bebas untuk terbang kemanapun engkau ingin, nak, asalkan itu tidak melanggar rambu yang telah engkau pahami. Kuikuti sabda Gibran untuk memberi ruang pada ragamu dan membebaskan jiwamu. Sebab meski anakku, engkau bukanlah anakku, Sakti. Engkau adalah anak kehidupan. Jadi, kembalilah pada hidupmu. Ibu akan mendo’a untukmu, untuk keselamatan dan kebahagiaan dunia akhiratmu. Dari sini, dari sekarang.
Dengan segenap cinta,
Ibu
-juga untuk Rosyana Mahmudah dan pamannya yang baru saja berulang tahun, Adnan Putra Ramadhan, Aldy Putra Kautsar, Naura Kamila, (Alm) Gailan Rafi, Ameeradina Azka Aziza, Ramzy Rafi Rachmadani-