SAKTI ini SAKIT : 1
April 30, 2009 by guru-tengil
Perempuan berjilbab hitam itu duduk di sebelah kananku. Sementara yang lain terpukau, ia tampak terlalu hirau dengan apa yang kukerjakan. Aku tahu dia sedang sakit. Titik ajna diantara kedua alisnya yang melengkung rendah itu pastilah berkedut cepat. Nyerinya terasa hingga bagian belakang telinga kanannya. Demikian pula perut kanan bawahnya yang memanas. Mungkin dia punya masalah endometriosis. Aku kurang tahu, tapi tampaknya begitu. Kami bertujuh duduk di pojokan sebuah kafe yang temaram di Citos. Aku adalah undangan terakhir. Rani mengundangku lewat selular sore ini, katanya ini adalah perkumpulan indigo yang dahsyat. Lebih dahsyat dari kelompok-kelompok lainnya yang biasa kami ikuti.
Bergiliran mereka kusembuhkan. Sederhana saja, aku hanya menggunakan do’a-do’a biasa. Al-Fatihaah tentunya. Induk segala ayat dan surat dari sang kitab yang tak terjumput keraguan sedikitpun di dalamnya. Kali ini giliran Puput, gadis manis yang tampaknya terobsesi mengetahui siapa dirinya dan apa misinya di dunia ini. Terlebih lagi karena dia merasa telah menyingkap rahasia kehidupan lalunya; sebagai seorang Brahmin pengayom lingkungan. Tengadah tangan kanan Puput di depan dadaku mengungkap garis hidupnya yang ruwet. Kutelangkupkan tanganku menganggang di atas telapaknya, Bismillahirrahmanirrahiim,
Bersihkan.
Seimbangkan.
Sembuhkan.
Berdayakan
…Pu…
“Nama lengkapmu sopo, Put?”
“Putri Ariani”
Bersihkan.
Seimbangkan.
Sembuhkan.
Berdayakan
Putri Ariani.
Kuketuk batang nadi di pergelangannya sebanyak tiga kali, juga ubun-ubunnya. Assalammualaikum…bukalah pintu diriMu yang terdapat dalam diri perempuan ini. Sembuhkanlah dirinya, penyakit apapun yang ada padanya. Refleks tanganku membuat gerakan mengulir bagai spiral yang mengerucut ke atas. Kuhembuskan nafas dan bersendawa keras. Semua orang di meja menoleh arahku, kecuali gadis berjilbab hitam di sebelah kananku. Ia cuma menunduk dan tampak menggeleng kecil lalu menoleh pada teman di sebelah kanannya dan melontarkan gurauan garing tentang baju Batman.
“Kenapa Batman menggunakan baju bergambar kelelawar. Bukannya menggunakan baju bertuliskan inisialnya seperti Superman yang memakai spandex berinisial S?”
Ella dan Liem, teman di sebelah kanannya terkikik-kiki geli. Aku tergoda untuk nimbrung pembicaraan mereka, “ Karena tidak ada ukuran B mungkin?”
Gadis itu mengerling padaku, lalu membuang mukanya dengan cepat ke arah teman-temannya, “Salah, mas. Jawabannya adalah karena kalau Batman pakai kaus berinisial B, nanti dia disangka Bobo kelinci”. Kami semua tergelak kecil. Aku bertanya namanya sekali lagi,
“Bintang”, ia menukas pendek dengan senyum yang mengapung.
Seperti nama laki-laki. Ya, memang seperti nama laki-laki, tapi tidak penting lagi bukan? Ya,ya…memang tidak penting lagi sekarang.
“Sini, kemarikan tanganmu. Biar kuseimbangkan dirimu”
Ia tersedak menahan gelak, “Memangnya menurut mas ini, saya kurang seimbang?”
“Oh, bukan begitu. Saya hanya…hanya ingin menyeimbangkan kesehatan Bintang”
“Yah, silahkan saja. Siapa tahu saya jadi lebih seimbang lagi. Siapa tahu lemak saya berkurang banyak”, senyumnya makin mengapung-ngapung di pipinya yang gembul. Ingin rasanya aku menjaringnya dan menyimpannya untukku sendiri.
“Bagaimana rasanya, dingin ya? Sejukkah? Aku mengalirkan energi kasih sayang untukmu. Hidup tak akan berarti tanpa kasih sayang, Bin”
Ia mendengus pelan, senyumnya tertarik ke sebelah kanan. Sebuah seringai lembut.
“Bagaimana rasanya? Kasih tahu aku dong! Aku perlu saran-saran nih”, desakku.
“Sop kaki ya,mas?”
“Sop kaki?”
“Saran opini masukan dan karitik”
“Karitik?”
“Kritik”, ia tersenyum jahil menggemaskan.
“Oh…iya,ya…katakan, apa rasanya ketika aku menyembuhkanmu barusan”
“Baik-baik saja. Adem.”
“Begitu saja?”
“Begitu saja.”
—
Bulan purnama masih benderang melubangi hitam beledu langit malam. Sakti termangu di teras rumahnya. Dibiarkannya jemarinya bergerak sendiri memetik-metik dawai gitar kesayangannya. Baru saja ia pulang mengantar Bintang kembali ke rumahnya. Perempuan itu memiliki daya pikat yang magis, sesuatu yang entah dan tak terjangkau. Rupanya biasa saja, wajahnya bulat demikian pula tubuhnya. Bagai purnama sidhi di atas sana. Benderang di tengah kegelapan.
Perempuan muda itu baru saja menceramahinya tentang adab berilmu. Sakti menganggapnya sok tahu, tapi toh diam-diam ia mulai memafhumkan segala yang dikatakan Bintang. Diam-diam pula ia merasa sedikit perih mengingat sindir halus Bintang bahwa tak seharusnya ia mengobati orang tanpa diminta. Sebaiknya tidak kau langgar kehendak bebas seseorang. Hei! Aku tidak bermaksud bermegah diri! Aku hanya ingin membantu sesama lebih banyak lagi. Bukankan mereka yang paling baik dimata Tuhan adalah mereka yang berguna bagi sesamanya? Sakti mendesah resah. Jemarinya mulai menari, memainkan komposisi Romance D’Amour sambil matanya merenungi bulat bulan dan sepijar Orion. Amor untukmu, Bintang.
—
Tiba-tiba saja ia terhempas ke dalam pusaran cahaya yang begitu dahsyat. Sakti terjengkang dalam kebingungan. Ia berusaha bangkit dan dengan risau memandang sekeliling. Begitu gelap dan memedihkan hati; dinding-dinding batu di sekelilingnya. Matanya menyipit, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan yang mendadak mengepungnya. Sesosok entah mendorongnya hingga lagi-lagi ia terjerembab ke belakang. Masuk ke dalam sebuah lift yang begitu sempit. Sakti menerjang keluar namun segera terbentur jeruji yang amat berkarat. Kau bisa melihat gelembung-gelembung dan lubang-lubang korosi yang akut pada besi-besinya. Segera ia menemukan lift itu sama sekali tak berpintu. Sakti berteriak kencang memohon pertolongan, namun suaranya menguap begitu saja bersama bau karat dan anyir kematian. Sekuat tenaga ia merangsek kerangkeng yang mengungkungnya sebelum sesaat kemudian melompat kaget hingga jatuh terduduk ke belakang. Sebuah tangan yang amat kurus, rangka berbalut kulit tipis yang coklat menggosong dengan kuku-kukunya yang panjang menjulur masuk ke dalam lift tersebut. Sakti merasakan tekanan yang begitu menyesakkan di dadanya. Ia bermaksud merogoh kantungnya untuk mencari ventolin untuk asmanya, tapi ia sama sekali tak dapat menggerakkan tubuhnya. Ia begitu takut, ngeri dan jeri. Tangan itu terulur makin jauh dalam hingga nyaris menyentuh dadanya yang kerempeng. Makhluk itu mengorok bagai celeng sebelum akhirnya melolong penuh nyeri.
Mulutnya melebar berteriak lantang tetapi bisu tanpa daya, hatinya mendaraskan segala ayat permohonan perlindungan yang ia tahu. Dari Al-Fatihah hingga ayat kursi dan zikir-zikir lainnya. Ia masih berusaha mengunyah apa yang baru saja dialaminya. Seingatnya tadi ia tengah duduk di teras rumahnya. Masih dengan seragam putih abu-abunya yang lepek oleh keringat sepulang sekolah. Ia begitu yakin tadi masih jam tiga sore, adzan Ashar belumpun berkumandang. Ia tengah membaca sebuah buku. Tasawuf dalam Islam. Sebuah buku tipis yang diperolehnya dua hari yang lalu. 3600 rupiah. Dibelinya dengan uang yang seharusnya ia gunakan untuk membeli buku biologi kelas 2. Siang tadi, ia baru saja memasuki bab ke-7, Tanazzalul, ketika tiba-tiba ia terlempar ke dunia bawah tanah ini. Ia merasakan rasa mual yang luar biasa akibat rasa takutnya. Bukunya entah terlepar kemana. Ia masih berbaju lengkap, namun rasanya seperti telanjang. Angin serasa mengulitinya. Ia menggigil kepanasan. Dingin sekaligus sumuk luar biasa. Ia merasakan panas menguar dari seberang jerujinya.
Allahu Akbar!! Ingin rasanya ia memekik, namun suaranya benar-benar menghilang.
“Saktiiiiiii….” Makhluk mengerikan di depannya membisikkan namanya. Matanya putih yang tak berbiji itu bagai hendak melompat keluar dari sarangnya. Ia tak lagi berhidung. Ia begitu kisut bagaikan jeruk yang busuk mengering. Sakti merekat ke dinding, tak bergerak. Diluar nyananya, makhluk itu menjawab ketika hatinya bertanya apakah gerangan yang tengah dihadapinya.
“Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Kita adalah satu”
Mendengarnya, Sakti merasakan amarahnya berkobar liar, begitu marahnya ia hingga tersedu-sedu tanpa malu. Hatinya memberontak. Ia bukanlah aku dan tak akan pernah menjadi aku!! Semua ini hanyalah dusta!! Tiba-tiba saja ia memberontak dan merangsek maju sekali lagi. Ia harus keluar dari penjara ini dan melarikan diri.
“Aku Saktiiiiiiiiiiiiiii…”
Demikian lalu mulutnya membentuk bulatan O sempurna dan matanya membeliak kaget. Jari tulang itu menembus dadanya. Menghentikan jantungnya. Membubuhkan tanda titik dalam riwayat hidupnya. Mati.
—
Tetangga-tetangga yang sore itu merubung tubuhnya yang mulai lemas dan membiru saling bertukar bisik bahwa Sakti, sulung dari pandawa lima bu Puspo ternyata mengidap epilepsi. Sebagian yang lain lagi menuduhnya sebagai pecandu pil BK atau koplo. Ayahnya telah dipanggil untuk pulang lebih cepat dari kantornya. Ibunya, dibantu para tetangga telah mencoba menyadarkannya dengan olesan duyungson pada titik-titik biru calon kumisnya yang tumbuh malu-malu. Mereka mengompres dan membasuhnya dengan air dingin, mereka menepuk-nepuk pipinya dengan halus dan kasar. Tapi ia tak juga terbangun. Ibunya membisikkan asma-asma Allah di telinga kanannya, ustad guru ngajinya yang baru saja tiba selepas memimpin shalat Ashar menuntunnya mengucap kalimat syahadat. Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa nabi Muhammad SAW itu utusan Allah.
—-
“ Siapa Tuhanmu?”
“ Allah Subhanahu Wa Taala”
“Siapa nabimu?”
“Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam”
“Apa kitabmu?”
“Al-Qur’anul kariim”
Sakti selalu saja tertidur manakala ustad Ali bertutur tentang alam kubur, nikmat dunia dan akhirat. Ia tidak mendapatinya menarik untuk disimak. Tapi tidak kali ini, jiwanya terbangun penuh, meski raganya tengah bersiap membuka pagar kematian.
—
“Lalu kamu pergi kemana lagi, nak?”
“Aku diajak ke surga, ibu. Kulihat senyum Adam yang menurunkan kita semua. Kulihat tangan Nuh menelangkupi mulutnya ketika memandang kosong pada lautan lepas yang mengaramkan seluruh kehidupan. Kulihat Ibrahim, ibu…sebilah parang besar tergeletak di sisinya. Kupikir, itu adalah parang yang seharusnya menetak leher Ismail. Oh, Ismail yang begitu penuh bakti…Ibu, kau juga boleh memotong leherku, ibu…jika itu satu-satunya cara agar kita berdua memperoleh bahagia dunia akhirat”
Air mata ibu mengalir deras bagai sungai madu yang dilihatnya berkelok-kelok dibawah taman firdaus. “Oh, Sakti…”
“Aku ingin kembali bu…aku ingin kembali ke surga.”
“Surgamu sekarang disini, nak…bersama ibu dan bapak. Bersama adik-adikmu”
Sakti bergelung makin mendusel ke sisi paha ibunya yang kini duduk di tepian ranjang kayunya. Keringat menguyupkannya, nafasnya tersengal bagai binatang liar yang baru saja tertaklukkan. Ibu mengusap rambut basah yang menempel di keningnya sambil mengusap butiran-butiran kristal yang menjebol matanya. Bulu matanya yang lentik berlengketan oleh air mata. Bapak hanya mematung bersandar pada pintu kamarnya, menatapnya dengan pandangan yang tak akan pernah bisa terdefinisi oleh kamus manapun.
“Ternyata langit itu tak terbentang di atas kita, bu. Tujuh lapis langit ada di bawah kakimu, ibu. Aku telah melihatnya sendiri. Surga ada di bawah telapak kakimu dan neraka…oh, tempat menyakitkan itu ada di selangkangan dan pikiranku sendiri, bu. Ibu, aku takut…aku takut masuk neraka bu…aku hanya ingin masuk surga. Aku ingin menjumpai lagi Isa Alaihissalaam. Ibu mesti menjumpainya. Dia begitu tampan, bersih dan welas asih meskipun ia begitu terluka. Ia tunjukkan lubang-lubang yang menganga di telapak tangan dan kakinya. Lubang mungil seukuran mata pasak. Ia menunjukkan lubang itu tepat di depan mataku hingga melaluinya aku bisa melihat wajahnya. Ia bilang Tuhan tidak meninggalkannya, bu. Ibu, aku ingin menemuinya lagi…”
Ibu semakin terisak. Bahunya berguncang hebat. Bapak menghampiri dan menggiring kepala ibu bersandar di perutnya yang empuk. Wis, wis…ucapnya lembut sambil memapah ibu keluar kamar. Hatinya hancur, nalarnya pun begitu.
“Ibu,ibu…kenapa kau tinggalkan aku. Ibu…aku hanya ingin surga.”
—-
“Sayang, kamu ingin merasakan surga tidak?”
“Hmmmhhhh…”
Malam telah sepenuhnya meraja. Mentari telah rebah di peraduan sejak dua jam yang lalu, bulanpun hanya tersenyum sabit. Ombak yang rindu pada pantai menyanyikan simfoni cinta yang membara pada titik-titik pasir dan bendungan batu. Angin laut meruapkan bau garam pada udara yang dihirupnya dengan tersengal-sengal. Jemarinya yang kokoh membenam pada ombak rambutnya yang wangi ginseng. Kepala gadis itu bergerak-gerak lembut di pangkal pahanya yang waspada. Ia mendesah gelisah, menggeliat marah namun sepenuhnya berserah pada hangat lidah yang menyapu dan menyesap akar dirinya. Hangat yang perlahan membakar dunianya sepenuhnya sampai akhirnya mengguncang episentrum dirinya. Ia menggempa. Bergemuruh dahsyat. Erupsi menghantar lahar putih panas meleleh turun. Membakar segala yang dilewatinya. Didengarnya dirinya sendiri menggeram keras sebelum badai itu mereda. Gadis berambut serupa deburan ombak itu mengangkat kepalanya dari selangkangannya yang kini tak lagi menuding gusar. Punggung tangannya mengusap bibirnya yang merah nyalanya memudar oleh birahi yang baru saja matang terbakar,
“Selamat datang di surga, mas Sakti…”
—
“Aku jijik sama kamu! Aku muak!! Cukup sudah! Aku ingin bercerai!!”
Afni membanting pintu kamarn mereka dan berlari keluar dalam ledak derai tangis kemarahan. Suaminya, Sakti bergegas keluar dari kamar mereka dan mengejarnya. Ditarik dan ditelikungnya lengan kerempeng Afni. Dengan sekali sentak, ia berhasil membalikkan tubuh Afni menghadap dirinya. Dicengkeramnya kuat-kuat dan diguncangkannya lengan perempuan yang telah tujuh tahun berbagi segalanya dengannya itu, “Afni!! Jangan kurang ajar kamu! Jaga mulutmu!”. Sebuah usaha yang sia-sia, sebab Afni malah menjadi semakin histeris, “Sampah kamu! Najis kamu!” Teriakannya yang tak henti-henti itu sungguh-sungguh membangunkan malam hingga akhirnya Sakti terpaksa membungkamnya telak dengan sebuah tamparan keras di pipinya.
Afni tersentak kaget memegangi pipinya yang mendadak panas. Sakti sendiri tak kalah kagetnya, belum pernah sebelumnya ia menampar perempuan manapun. “Afni, sayang…maafkan aku.”, dengan canggung ia berusaha merengkuh istrinya agar masuk ke dalam pelukannya. “I love you…I love us”, tetapi perempuan itu keburu terluka parah hatinya. Matanya yang telah sepenuhnya membanjir itu menatap Sakti penuh murka. Dengan keras ia menarik dahak ke ujung tenggoroknya dan secepat kilat, sepenuh benci dilontarnya cairan kental itu ke arah wajah suaminya, lantas berbisik “Naaa-jis!”. Lalu ia berlari ke luar, ke arah sebuah Honda City metalik dan bergegas masuk kedalamnya.
Sakti berlari menyusulnya penuh amarah yang berkobar tak kalah dahsyatnya. “Ffffuck! Afni!! Buka pintunya!, “ ia mulai menggebuki sekujur tubuh mobil itu. Afni hanya membuka sedikit kacanya. Perempuan yang biasanya lembut itu kini begitu beringas bagai hewan yang terluka, “Apa kamu bilang? Fuck? Kamu bilang fuck?!! Oh, bagus sekali, memang itulah kerjamu di belakangku bukan?! Oh come on, kamu memang najis, pemimpi, gila dan penjahat kelamin! Aku bosan jadi bahan gunjingan orang bahwa suamiku gila! Ibu pasti menyesal telah melahirkanmu. Tapi aku lebih menyesal lagi mempercayaimu dan menikahimu!”
-bersambung..-