SELAMAT PAGI-SELAMAT TIDUR
April 30, 2009 by guru-tengil
(sebuah cerpen yang pendek sekali dari Andi Purwanto dan Rizki Raindriati)
Kususuri jalan yang sama lagi pagi ini. Adzan subuh sudah mulai berkumandang. Seperti biasa, kutemui juga Pak Haji di jalan pulang.
“Assalamualaikum, Pak Haji.”
Pak Haji diam saja, seperti biasa. Tapi tak apa. Pak Haji mungkin terburu-buru mencari surga. Sungguh ia orang yang amat saleh.
Kumandang adzan berhenti tepat saat aku tiba di depan pintu kamar kosku. Kuputar kunci, lalu masuk. Seperti biasa. Kumasak air untukku mandi.Itu tak biasa. Tapi pagi ini dingin sekali. Aku mandi lama sekali. Hari ini badanku kotor sekali. Seperti biasa juga. Lalu aku memasak. Memasak apa saja. Kuceburkan sekeping mie instant dan patahan-patahan sawi. Ternyata jadi agak terlalu banyak. Aku memakannya sedikit. Sisanya entah untuk siapa. kadang aku juga lupa sebenarnya untuk apa aku masak? Hmm, mungkin supaya aku tak lupa cara memasak saja. Seperti biasa.
Kurapikan tempat tidurku. Aku letih. Aku ingin tidur. Hampir saja aku terlelap saat sebuah batu melayang mengenai pintu kamar kostku. Kuintip dari jendela. Ah, mereka lagi. Pasukan berandal berbaju putih bercelana biru.
“Hei perek, layani aku dong hahaha,” teriak salah satu di antaranya. Teman-temannya ikut tertawa. Riuh. Kubiarkan saja mereka. seperti biasa. Siang nanti biasanya giliran ibu-ibu mereka yang melempariku dengan cibiran dan delikan mata. Baik ketika aku di warung, di pasar, di apotik, di tukang jahit atau di mesjid. Seperti biasa. Bapak-bapak dan suami-suami mereka juga yang memberiku uang. Bapak-bapak mereka juga yang minta kulayani tiap malam.
Aku mencoba memejamkan mata lagi. Belakangan ini agak sulit. Tidak seperti biasa. Anak tadi yang meneriakinya, wajahnya terbayang lagi. Dia tampan. Seperti ayahnya. Ibunya juga cantik sekali. Ibu Kades Syukur. Wangi, bersih,shalehah dan sukses. Beberapa hari yang lalu aku ketemu ibunya di warung. Ia mencibir, memandangku dengan ekor matanya. Seperti biasa. Kali ini ditambah bisikan isi komentar pedas. Agak tidak biasa.
—-
“Mmmhh, perempuan murahan datang…”
Biasanya aku diam saja. Tapi hari itu memang agak tidak biasa. Tiba-tiba saja aku ingin menanggapi. Dan mulutku bicara tanpa sempat kutahan lagi, “Tidak lagi. Suami Bu Kades selalu membayar saya diatas rata-rata.” Dan hal berikutnya yang kutahu, telapak tangannya mendarat telak di pipi kiriku. “Dasar sundal! Perek murahan!!”.
Ia begitu murka. Matanya mendadak nyalang. Badannya bergetar. Tangannya siap mengayun lagi, tapi pemilik warung mencegahnya. Pengunjung lain juga. Ia merangsek maju, tetapi mereka mencegahnya. Kata-kata kotor berhamburan dari mulutnya. Tidak apa-apa. Aku sudah biasa mendengarnya. Ibu-ibu lain disitu jadi ikut marah padaku. Seseorang memakiku. Sudah biasa. Seseorang yang lain menyalahkanku. Itu juga biasa. Ibu pemilik warung lantas mengusirku. Itu juga biasa. Aku mengambil belanjaanku yang sedikit itu. Meletakkan uangnya diatas sebuah toples permen lalu pulang. Lantas bekerja seperti biasa.
Kades Syukur adalah kepala desa sekaligus tuan tanah paling berkuasa di desa ini. Ia juga insinyur, makan sekolahan. Ia juga haji, ngerti agama lebih banyak dari aku. Seharusnya ia saleh. Orang saleh jarang yang bikin salah. Aku kaget ketika dia datang pertama kali. Tapi aku biasa saja. Banyak laki-laki tak terduga yang datang padaku. Aku ya terima saja. Pada dasarnya mereka semua sama dihadapanku. Jadi, biasa saja.
Pipiku jadi agak memar hari itu. Kades Syukur tercengang malam harinya. Ia memegang pipiku panik. “Siapa yang melakukannya??!”. Aku tersenyum dan menggeleng saja. Seperti biasa. Ia mengomentari, pipi sehalus pipiku tak seharusnya ditampar. Seharusnya dicium saja. Ia lalu mulai menggombal lagi. Lantas mencumbuku. Seperti biasa.
Aku sudah biasa dengan tamparan. Seingatku, bapak sering menampar emak. Bapak juga sering menamparku. Bapak sering menampar adik-adikku. Bapak juga sering ditampar juragannya. Kalau setoran becaknya tidak penuh. Bapak juga sering ditampar preman Pasar Kembang. Kalau upetinya kurang. Aku sudah amat biasa dengan tamparan. Pukulan dan tendangan juga. Makian juga.
Tapi bapak sudah lama tidak menamparku. Terakhir ia menamparku sepuluh tahun lalu. Waktu itu aku masih tiga belas tahun. Aku ingat gara-garanya. Aku marah ketika bapak bilang ia akan menjualku. Juragan sapi itu membeliku seharga empat juta rupiah. Cukup untuk menutup hutang keluarga. Aku protes singkat, “Aku tidak mau,pak! Ustadah bilang itu dosa!” lalu bapak menamparku keras. Kupingku sampai berdengung lama. “Aku tidak mau masuk neraka, pak!” kali ini bapak langsung menghajarku. Hidungku sedikit berdarah. Bibirku pecah. Perutku sakit sampai mau muntah. Ibu menjerit-jerit melindungiku. Dan seperti biasa, sia-sia.
Ibu mendandaniku sambil menangis. Ketika ia mengoleskan gincu ke bibirku, aku meringis. Merah gincu menyamarkan merah darah bibir pecah. Ibu berpesan padaku agar aku jaga diri. Seperti biasanya kebanyakan ibu-ibu. Ia berpesan lagi agar aku manut saja. Supaya hidupku aman. Aku tersenyum dan mengangguk saja. Menenangkan hati ibu. Juga hatiku sendiri. Seperti biasa.
Bapak menggandeng tanganku erat. Tidak biasanya. Mungkin ia takut aku akan kabur. Ia berkata betapa aku adalah anaknya yang paling baik dan cantik. Aku adalah pahlawan keluarga. Aku diam saja. Seperti yang biasa kulakukan saat bapak bicara. Tuan juragan sapi itu baik. Awalnya saja. Seperti biasa. Laki-laki hidung belang hanya baik awalnya saja. Laki-laki baik mungkin akan baik selamanya. Tapi aku belum pernah bertemu laki-laki baik seumur hidupku. Jadi kubilang saja; mungkin. Seperti biasanya perempuan, aku juga berkhayal bertemu cinta sejati. Tapi aku ini orang yang aneh. Aku tidak biasa. Aku ini bekasnya banyak lelaki. Lagian, wajah dan otakku juga biasa saja. Tidak ada nilai jual lebihnya untuk dipungut jadi bini. Sudahlah, tidak mengapa. Hidupku begini saja. Toh aku sudah biasa.
—
Aku mengusap air mata di pipiku. Tiba-tiba aku kangen ibu. Dimana ya, ia tinggal sekarang? Terakhir aku mudik delapan tahun lalu, rumah kami sudah tergusur. Ibu juga tidak mungkin tahu dimana aku tinggal. Dari rumah sang juragan sapi, aku telah pindah puluhan kali. Seperti biasa. Ah, sudah aku tidur saja! Ingat-ingat yang kemarin hanya bikin aku sedih. Malah jadi tidak bisa tidur. Padahal kalau aku kurang istirahat, penampilan dan servisku jadi kurang oke. Kalau servis tidak oke, pelangganku kabur. Lalu aku besok makan apa? tinggal dimana? Sudahlah, lupakan saja kepahitan masa lalu. Seperti biasa.
Selamat pagi - Selamat tidur, pembaca yang terhormat. Aku tahu aku takkan bermimpi pagi ini karena semua mimpi sudah kalian habiskan bersama tadi malam. Aku hanya ingin tidur. Itu saja.
-Sukoharjo&Jakarta, (30/4)+(1/5).09, AP&RR-
(Terima kasih buat Andi yang lagi-lagi mengijinkan karyanya direcoki. i’ve got my 20. you’ve got your 20…come on lets make it 50-50,Ndi! pasti jadinya seruuuuu)