Everything has a beginning and an end
2008 sudah hampir usai.
Menengok kembali ke jejak langkah yang telah kutinggalkan di segenap punggung bumi dan panggung kehidupan membuatku berpikir bahwa waktu adalah konsep yang sungguh nisbi dan absurd. Seberapa lamanyakah “sebentar” dan “lama” itu? Berapakah besaran waktu untuk “bahagia selama-lamanya” itu?
Membuka lagi lembar-lembar kisah hidup yang telah lalu, membuatku tersadar akan betapa banyaknya pelajaran berharga yang telah kupetik sepanjang 12 bulan ini. Terbaca lagi dalam lembar-lembarnya dongeng tentang tawa tangis, bahagia duka, marah maaf, kalah menang, gelap terang dan terutama kisah tentang negeri abu-abu dimana semua tampak begitu relatif dan ragu. Terlintas lagi berbagai ekspresi wajahku dalam senyum sumringah, sembab, mendelik marah, cemberut , juga pipi-pipi yang bersemu merah jambu karena tersipu malu. Terkenang lagi aku akan wajah-wajah keluarga, karib kerabat dan sahabat-sahabat lama dan baru yang kutemui dalam perjalanan waktu. Semua yang membawa pelajaran dan hikmah untukku dan masing-masing mereka sendiri.
JANUARI 2008
Aku mengawali tahun ini dengan pelajaran yang amat berharga mengenai menjinakkan ego dan kehendak yang tak tahu diri, mengendalikan pikiran dan emosi serta melepaskan diri dari kemelekatan terhadap berbagai hal. Ya, baru kusadari bahwa ego yang tak terkendali adalah sumber begitu banyak pertikaian dan peperangan dalam hidup. Dan kemelekatan terhadap segala sesuatu, termasuk terhadap waktu adalah sumber derita dan nestapa dalam hati. seharusnya dijalani dengan maju bergerak ke depan.
FEBRUARI 2008
Setelah rahasia besar mengenai sisi gelap identitas seseorang yang kucintai terungkap, aku belajar dua hal baru lagi : Ikhlas dan Maaf. Ikhlas dalam artian menerima dengan lapang dada dan meyakini bahwa segala yang terjadi dalam hidup memang harus terjadi dan memiliki hikmah dan maknanya sendiri.
Untuk bisa bersikap ikhlas, aku belajar bahwa aku harus memulainya dari memaafkan, menerima dan lalu mencintai diri sendiri. Aku hanyalah manusia biasa yang juga dapat berbuat salah, lalai dan abai, demikian pula ia yang kucintai. Who am i to judge people?
MARET 2008
Kunjunganku ke kota Surabaya masih mengajarkanku tentang ikhlas dan maaf, namun kali ini dalam skala yang lebih besar dan divine. Bagaimana menghadapi hal yang tak terelakkan dan di luar kuasa kita sebagai manusia. Memandangi kepulan asap lumpur panas dari ketinggian langit Sidoarjo, benar-benar mengguncangkanku. Betapa kecilnya aku sebagai manusia, betapa tak berdayanya aku dalam lingkupan kehendakNya, betapa beruntungnya aku karena Allah masih memberiku hidup yang bahagia meskipun tak selalu menyenangkan. Lingkungan yang masih utuh meski polusi, kemacetan dan kejahatan mengintai di sekitar. Aku masih memiliki rumah yang melindungiku dari ganasnya cuaca dan manusia. Aku guncang memikirkan mereka yang dipaksa untuk menjalani kehidupan yang tidak nyaman akibat ulah orang lain yang tidak bertanggung jawab…which, sayangnya banyak kita alami dalam hidup kita.
APRIL 2008
Akhirnya debu-debu cinta mulai bertebaran lagi di udara.
Akhirnya aku menulis dan membuat buku lagi untuk seseorang.
Akhirnya ada seseorang yang salah menyebutkan nama orang lain dengan namaku lebih dari jumlah sepuluh jari kali
Akhirnya ada seseorang yang salah tingkah setiap kali bersamaku.
Akhirnya ada seseorang yang bisa kuajak bicara apa saja dalam “bahasaku”
Akhirnya ada seseorang yang membuatku sadar bahwa aku, seperti juga semua orang lainnya, memiliki potensi untuk mengembangkan diri secara optimal. Bahwa semua orang adalah pribadi yang unik dan berharga. Bahwa kecantikan fisik tak akan ada artinya tanpa kecantikan hati dan otak.
Terima kasih, “bapak”…
You’ve been a great inspiration to me. You are a teacher, a dearest friend and a brother to me. Tanpamu, aku tak akan pernah sampai di titik dimana aku menuliskan semua ini. Semoga Allah selalu membalas kebaikan hatimu itu, pak!
Posted in Uncategorized | 1 Comment »